Laporan resmi dari JISDOR nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14,245 jadi Rp14,282 memasuki sesi perdagangan hari Jumat 3/5.
Pasangan USD/IDR melompat ke Rp14,250 perdagangan pasar mata uang, hingga kembali menempati posisi paling tinggi semenjak tanggal 29 Maret kemarin.
Depresiasi Rupiah ini terkait dengan belum juga tuturnya hasil negosiasi perdagangan AS-China, dan perkembangan ekonomi AS yang semakin kuat.
Lepas dari beberapa isu yang dibuang oleh alat, perundingan dagang antara Amerika Serikat serta China dapat dibuktikan masih berjalan alot.
Draft persetujuan final belum terwujud sebab kedua pihak terus berdebat tentang pokok-pokok penting, seperti permasalahan hak kekayaan intelektual serta pembukaan akses perusahaan asing di China.
Mengakibatkan, gagasan pertemuan antara Presiden AS Donald Trump serta Presiden China Xi Jinping juga belum jelas akan diadakan kapan. Dalam kondisi ini, kecemasan tentang timbulnya perang dagang set dua malah kembali mengemuka.
Perkembangan ekonomi Amerika Serikat belakangan ini diadukan melejit 3.2 % annualized dalam kuartal I/2019; jauh melebihi harapan awal yang dibanderol pada 2 %.
Memang, ada kecemasan tentang pergerakan inflasi AS yang akhir-akhir ini mulai lesu. Namun, perkembangan ekonomi AS yang kompak itu saja telah tawarkan stimulan mencukupi buat investor asing untuk menarik dananya dari beberapa negara berkembang seperti Indonesia. Demikian ringkasan opini beberapa analis.
Perry Warjiyo, memberi keterangan berlainan. Seperti diambil oleh Republika, dia memandang jika gerakan kurs Rupiah saat ini masih dikuasai skema musiman, berkenaan dengan tingginya keinginan Dolar AS untuk pembayaran dividen kuartal II/2019.
Diluar itu, ada juga sentimen risk-off dari peluang berlangsungnya perlambatan ekonomi dan gerakan Peso Argentina serta Lira Turki. Memudarnya harapan pemangkasan suku bunga AS ikut merubah pelemahan Rupiah minggu ini.
Meskipun begitu, Perry yakini jika nilai tukar Rupiah akan stabil condong menguat di kuartal ke-3 tahun 2019 ataupun seterusnya. Dia memperjelas kembali jika Bank Indonesia selalu lakukan stabilisasi supaya nilai tukar Rupiah masih terbangun sesuai fundamental-nya.






