Nilai tukar sah JISDOR kuat dari Rp14.147 jadi Rp14.129 dalam perdagangan 9/7. Tetapi, kurs USD/IDR di pasar spot mata uang malah naik 0.14 % ke posisi Rp14,125.
Nilai tukar mata uang bersimbol Garuda sudah mondar-mandir di seputar posisi Rp14,080-Rp14,240 sepanjang hampir tiga minggu paling akhir.
Publikasi data penjualan ritel Indonesia yang lumayan bagus siang tadi tidak dapat menggerakkan kurs Rupiah kuat ditengah-tengah animo Dolar AS yang sangat pesar di pasar keuangan global.
Siang tadi, Bank Indonesia menginformasikan jika hasil survey penjualan eceran untuk bulan Mei 2019 tunjukkan kenaikan 7.7 % YoY, bertambah dari 6.7 % pada periode awalnya.
Tetapi, penambahan itu diduga cuma dikarenakan oleh unsur musiman, yaitu peristiwa Ramadhan serta perayaan Idul Fitri.
Seperti dikatakan dalam laporan BI, Peningkatan itu khususnya di support oleh penjualan subkelompok Sandang, barisan Suku Cadang serta Aksesories, serta barisan Makanan, Minuman serta Tembakau bersamaan dengan keinginan yang bertambah sepanjang bulan Ramadhan serta mendekati perayaan Hari Raya Idulfitri.
IHSG alami kenaikan sebesar 0.57 % ke posisi 6,388.32 di akhir perdagangan session siang, tapi perform setiap bidang saham malah bermacam. Dari dua bidang saham yang seharusnya diuntungkan dari kenaikkan penjualan ritel, bidang perdagangan bertambah 0.75 %, sedang bidang barang mengonsumsi justru turun 0.14 %.
Demikian juga, nilai tukar Rupiah hampir tidak memberi respon laporan itu benar-benar. Aktor pasar fokus pada agenda beberapa pidato yang akan dikatakan oleh pimpinan bank sentra Amerika Serikat dalam beberapa waktu ke depan, hingga transaksi relatif sepi serta Dolar AS sukses melewati pesaingnya.
Bank sentra AS saat ini diperkirakan cuma akan memangkas bunga sekitar 25 basis point di akhir bulan ini, bukannya 50 basis point seperti direncanakan awalnya. Untuk memastikannya, investor serta trader akan menyorot testimoni Ketua Fed, Jerome Powell di depan Kongres AS di hari Rabu serta Kamis.
Pengakuan Powell yang condong batasi pemotongan suku bunga dapat punya potensi semakin mendesak mata uang lain, terhitung Rupiah. Tetapi, bila dia memiliki pendapat suku bunga dapat dipotong besar sebab keadaan ekonomi AS lebih buruk, karena itu Rupiah dapat ambil kesempatan untuk kuat.






