Untuk kali pertamanya dalam tiga bulan paling akhir, bank sentra Australia RBA putuskan untuk tidak merubah kebijaksanaan moneternya.
Tetapi, ketetapan itu cuma dapat menggerakkan AUD/USD ke rata-rata 0.6800 dalam perdagangan ini hari 6/8, sebelum tergelincir kembali pada rata-rata o.6787. Eskalasi perselisihan AS-China masih jadi perhatian penting aktor pasar, sesaat pengakuan RBA kental dengan nuansa dovish.
Barusan pagi, RBA menginformasikan akan menjaga suku bunga 1 % untuk untuk sesaat waktu sampai mereka dapat mengukur sebegitu besar efek pemotongan suku bunga awalnya dalam mendongrak perekonomian Australia.
Namun, mereka mengutarakan persiapan untuk memotong suku bunga , jika keadaan ekonomi dalam sekian waktu akan datang nyatanya belum penuhi harapan.
Gubernur RBA, Philip Lowe, mengatakan, Risiko pelemahan terus-terusan pada perekonomian global serta lemahnya inflasi sudah menyebabkan beberapa bank sentra turunkan suku bunga tahun ini, serta pelonggaran moneter lebih jauh direncanakan akan terjadi.
Cukup beralasan untuk menginginkan jika periode suku bunga rendah yang lebih lama akan dibutuhkan di Australia untuk sampai perkembangan dalam penurunan pengangguran serta perolehan perkembangan yang lebih terjamin ke arah sasaran inflasi.
Lowe mencatat jika perkembangan upah serta pergerakan inflasi masih lambat sampai sekarang. Jika kedua-duanya masih lesu dari sekian waktu, karena itu faksinya tidak akan sangsi untuk lakukan pelonggaran moneter.
Searah dengan pengakuan Lowe, aktor pasar sekarang seutuhnya mempertimbangkan prospek pemotongan suku bunga RBA sebesar 25 basis point pada bulan November.
Kebijaksanaan itu peluang akan diikuti dengan 1x pemotongan pada bulan Mei 2020, hingga suku bunga RBA akan sampai 0.5 % pada pertengahan tahun kedepan.
Selain itu, investor serta trader memonitor perubahan eskalasi perselisihan di antara AS serta China yang sekarang telah menyentuh masalah perang mata uang.
Di hari Senin, China biarkan nilai tukarnya jatuh ke rekor paling rendah pada sebuah dekade versi Dolar AS. Washington membalasnya dengan melabeli China jadi penipuan mata uang, hingga aktor pasar bertanya-tanya tentang sangsi ditambah lagi yang akan dikeluarkan oleh Trump buat Beijing.






