Dalam satu interviu dengan Financial Times pada akhir minggu lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan jika Uni Eropa dapat bangkrut bila tidak berhasil menyokong perekonomian beberapa negara anggotanya yang ringkih serta menolong mereka sembuh dari efek epidemi virus Corona.
Menurut Macron, tidak ada pilihan terkecuali mengeluarkan surat hutang dengan agunan bersama-sama untuk menalangi beberapa negara anggota Uni Eropa.
Sebab ketidakberhasilan Uni Eropa untuk membantu beberapa negara anggotanya yang sedang hadapi kritis.
Bisa dipakai oleh barisan populis anti-Uni Eropa di beberapa negara itu untuk mendapatkan suara dalam penyeleksian umum selanjutnya.
Wawasan surat hutang bersama-sama yang dipanggil obligasi Corona itu sudah dilawan oleh Jerman serta Belanda semenjak satu bulan kemarin.
Jerman serta Belanda yakini jika mereka turut jamin emisi obligasi itu, karenanya berarti mereka tuntut masyarakatnya menalangi keperluan dana beberapa negara lain.
Namun, beberapa negara yang terpengaruh paling jelek oleh epidemi, seperti Spanyol serta Italia, melihat penerbitan obligasi Corona untuk salah satu keinginan untuk keluar dari kritis.
Euro pernah kuat pada awal epidemi virus Corona, berkenaan dengan tindakan likuidasi beberapa aset beresiko tinggi yang menggerakkan repatriasi dana kembali pada Zone Euro.
Namun, tempatnya makin melemah ditengah-tengah besarnya intimidasi yang hadapi perekonomian serta perpolitikan ditempat.
Beberapa pemimpin Uni Eropa akan berunding lewat video pertemuan di hari Rabu akan datang untuk mengulas permasalahan ini.
Mereka peluang akan diharap untuk tanda-tangani persetujuan rangsangan yang sudah di setujui beberapa Menteri Keuangan UE minggu kemarin. Perubahan dalam dialog itu bisa memengaruhi nilai ganti Euro ke depan.
Persetujuan rangsangan yang disetujui beberapa menkeu UE tidak mengatakan banyak detil, termasuk juga mengenai bagaimana ‘dana pemulihan’ akan dibayar.
Hingga ini masih berpotensi untuk menyebabkan permasalahan antara beberapa pemimpin.
Dialog mengenai paket rangsangan dapat makin kompleks sebab keterikatannya dengan negosiasi mengenai budget tujuh tahunan Uni Eropa mendatang, tutur Rhys Herbert, seorang ekonom dari Lloyds Bank.






