Pasangan GBP/USD sudah sempat turun sampai posisi 1.1958 dalam perdagangan 3/9, sebab masalah brexit serta perpolitikan Inggris yang makin kalut.
Selain itu, launching laporan Purchasing Managers’ Index PMI untuk bidang konstruksi Inggris tampilkan catatan yang menyedihkan.
Sampai waktu berita dicatat, Sterling mulai konstan tetapi masih tertekan dekat posisi paling rendah tahun ini.
Berdasar laporan IHS Markit, score PMI Konstruksi Inggris alami penurunan dari 45.3 jadi 45.0 pada bulan Agustus 2019, meleset dari perkiraan awal yang dibanderol pada 46.7.
Penurunan dalam laporan ini disebabkan oleh menyusutnya kegiatan usaha, pesanan baru, serta optimisme pelaku bisnis tentang prospek hari esok.
Implikasi dari laporan ini sama dengan laporan PMI Manufaktur Inggris tempo hari, yaitu menunjukkan kemerosotan iklim usaha yang makin kronis.
Kemunduran bidang konstruksi makin lebih buruk, tidak bisa dielakkan.
PMI keseluruhannya masih berkelanjutan dengan output konstruksi turun hampir 2.0 % dalam kuartal ke-3, sesudah alami penurunan 1.3 % pada kuartal ke-2.
Indeks pekerjaan baru jatuh jadi cuma 40.0 -posisi paling rendah semenjak Maret 2009 dari 44.6 pada bulan Juli.
Kontraktor paling pesimis tentang outlook satu tahun ke depan semenjak Desember 2008, meskipun mereka belum lakukan PHK.
Selain itu, ketidakpastian politik kembali kuat. Parlemen Inggris masih mempunyai waktu sidang sepanjang beberapa waktu sampai suspensi diresmikan mulai 9 September sampai 14 Oktober akan laporanng.
Beberapa anggota parlemen mengerahkan semua daya untuk menetapkan legislasi baru dalam beberapa waktu ke depan.
Legislasi itu diperuntukkan untuk memaksakan pemerintah tunda deadline brexit, bila belum terwujud persetujuan dengan Uni Eropa yang di setujui oleh parlemen pada bulan Oktober akan laporanng.
Pertama Menteri Inggris, Boris Johnson, bereaksi keras melawan usaha beberapa anggota parlemen itu.
Dia memandang legislasi itu akan turunkan tempat tawarnya dalam negosiasi brexit dengan Uni Eropa.
Oleh karena itu, dia melemparkan intimidasi akan mengadakan pemilu awal pada bulan Oktober, jika anggota parlemen bersikukuh menetapkan legislasi itu.
Apabila di akhir hari Selasa, voting anggota parlemen mengizinkan waktu di hari Rabu untuk memperdebatkan legislasi yang direncanakan untuk memaksakan perdana mentri untuk tunda brexit dari tanggal 31 Oktober jadi 31 Januari 2020.
karena itu PM direncanakan akan membuat pemilu pada tanggal 14 Oktober, kata Paul Dales dari Capital Economics.






