Konferensi AS sukses raih persetujuan untuk menetapkan stimulus pajak sebesar USD900 miliar di hari Minggu.
Berita ini sedianya diprediksi akan lemahkan USD, tapi index dollar AS DXY malah kuat tipis seputar 0.2 % ke range 89.80-an dalam perdagangan hari ini 21/12 karena naiknya kecemasan pasar pada penebaran variasi virus COVID-19 baru di Eropa.
Konferensi AS Sahkan Stimulus Pajak 900 Milyar
Keputusan Konferensi AS untuk menetapkan stimulus sebesar USD900 miliar cetak riwayat selaku stimulus kontribusi ekonomi paling besar ke-2 sesudah USD2.3 triliun yang ditetapkan di bulan Maret 2020.
Stimulus berisi bantuan langsung sebesar USD600 untuk individu dan tambahan sokongan pengangguran sebesar USD300 per minggu.
Didalamnya ada dana untuk perusahaan kecil, kontribusi pangan, distribusi vaksin, dan service kesehatan. Namun, keseluruhan stimulus ini semakin lebih rendah daripada harapan pasar sebelumnya.
Siapa saja yang memikir undang-undang ini cukup tidak tahu apakah yang sedang berjalan di Amerika, tegas Chuck Schumer.
Dia menjelaskan akan ajukan stimulus semakin banyak sesudah presiden dipilih dari partai Demokrat, Joe Biden, dikukuhkan pada tanggal 20 Januari.
Kurangnya rasio stimulus berperan menggerakkan naiknya USD selaku asset safe haven di tengah-tengah teror perbaikan perekonomian AS yang lebih lambat.
Apa lagi tampil berita mengenai penemuan strain virus COVID-19 baru yang menyebar bisa lebih cepat di Inggris.
Penemuan itu sudah memacu kecemasan di Inggris dan beberapa negara tetangganya, hingga mengerem reli ekuitas dan mempopulerkan kembali safe haven di mata investor.
Waktu informasi dicatat, EUR/USD sudah mengalami penurunan sampai 1 % ke range 1.2136. GBP/USD bahkan juga roboh lebih dari 2 % ke range 1.3200 sebab banyak negara Uni Eropa yang batasi lajur transportasi dari dan ke Inggris sepanjang beberapa minggu depan.
Keadaan ini saat ini jadi parah kecemasan pada skenario no-deal brexit yang peluang berlangsung pada tahun akhir ini bila Inggris dan Uni Eropa tidak berhasil raih satu persetujuan dagang yang memberikan kepuasan.
Narasi seram Inggris mengenai minimnya suplai barang sesudah hard brexit alami perputaran baru untuk fakta yang sama sekali tidak sama, kata riset Ulrich Leuchtmann dari Commerzbank.






