Westminster membuat dua voting berkaitan gagasan mundurnya Inggris dari pihak Uni Eropa brexit.
Dalam voting pertama, beberapa anggota Parlemen Inggris menyepakati gagasan brexit yang diserahkan oleh Boris Johnson dengan pencapaian suara 329:299.
Tetapi, mereka melawan pemercepatan agenda proses legislasi brexit dalam voting ke-2 dengan pencapaian suara 322:308.
Walau sebenarnya, pemercepatan proses legislasi dibutuhkan supaya Inggris dapat memburu deadline brexit tanggal 30 Oktober akan datang.
Pound tidak alami penurunan mencolok selesai launching hasil voting, sebab parlemen sudah menyepakati gagasan brexit ala Johnson.
Ini adalah kali pertamanya parlemen Inggris menyepakati gagasan brexit semenjak masa Theresa May.
Tetapi, Pound tidak dapat meneruskan reli, sebab kondisi masih dibayang-bayangi ketidakpastian.
Seterusnya, aktor pasar memonitor apa Uni Eropa akan memberi waktu perpanjangan buat Inggris untuk memperdalam pengesahan legislasi brexit.
Sikap Johnson pasti akan menjadi perhatian, sebab awalnya dia sempat meneror akan menekan diadakannya pemilu awal bila jadwalnya tidak di setujui parlemen.
Pound akan alami rekonsilasi dalam rata-rata sempit untuk sesaat waktu, kata Junichi Ishikawa, ahli taktik forex senior dari IG Securities, Tokyo.
Sambungnya, Untuk sekarang, efek No-Deal Brexit sudah menyusut, tapi masih ada ketidakpastian politik.
Penangguhan brexit saat ini nampaknya jadi skenario yang paling mungkin berlangsung, serta kesempatan deal periode pendek sudah menyusut sedikit.
Penangguhan singkat untuk finalisasi deal brexit tidak akan jadi memperburuk perkembangan ekonomi serta Pound.
Khususnya bila diikuti dengan disepakatinya satu deal yang selanjutnya akan menggerakkan kenaikan keduanya dengan selekasnya.
Jika itu berlangsung, kami memprediksi Pound akan naik secara cepat, tutur Paul Dales dari Capital Economics.






