Pasangan USD/JPY tergelincir lagi lebih kurang 1 % pada sesi perdagangan hari ini 12/3.
Aksi risk-off meningkat sehubungan menggunakan kekecewaan pasar pada tanggapan Presiden AS Donald Trump buat wabah virus Corona yang semakin meluas pada negeri Paman Sam.
Saat informasi ditulis pada awal sesi perdagangan Eropa, USD/JPY masih terkekang pada kisaran 103.60-an, meskipun Greenback cukup andal versus Dolar Australia dan sejumlah mata uang utama lain.
Presiden AS merilis pelarangan untuk siapa saja dari 26 negara yang termasuk anggota Uni Eropa selain Inggris agar memasuki Amerika Serikat selama sebulan yang akan datang.
Ia jua membicarakan sejumlah keputusan ekonomi buat menanggulangi endemi virus Corona, tetapi langkah-langkah yang diambil gagal memuaskan aktor pasar.
Keputusan yang diambil nir meliputi subsidi bidang kesehatan publik yang dievaluasi sangat diperlukan waktu ini.
Pasar menginginkan lebih banyak, kata Moh Siong Sim, seorang pakar mata uang di Bank of Singapore, sebagaimana dilansir sang Reuters, Pelarangan perjalanan adalah bagian berdasarkan solusinya, tetapi bagian yang paling penting masih absen.
Bagian-bagian itu merupakan keputusan kesehatan publik: cuti sakit berbayar, tes gratis, perawatan gratis.
Pasar sekarang berharap kemungkinan aksi lebih poly dari The Fed, hal itu disebabkan kekecewaan dalam Gedung Putih.
Pasar futures sekarang memperhitungkan jumlah pengurangan suku bunga acuan Federal Reserve hingga 0% dalam rapat keputusan minggu depan.
Akibatnya, kurs Dolar AS terus tertekan lawan funding currencies misalnya Yen Jepang, Euro, Franc Swiss.
Kejutan deflasioner yang kami asumsikan akan membuat masuknya AS ke global ber-yield nol sudah berbalik sebagai kombinasi antara konflik dagang, perang harga minyak, dan virus COVID-19, komentar Jan Loeys dan Shiny Kundu menurut JP Morgan.
Sekarang terdapat kemungkinan nyaris setara untuk resesi AS secara resmi tahun ini.
World Health Organization WHO kemarin pula mengumumkan wabah ini sebagai pandemi dunia secara resi.
Wilayah yang akan terdampak paling besar diperkirakan China sebagai episenter bencana dan Uni Eropa yang yang terbaru menghadapi penyebaran masif.
Italia yang kini membukukan jumlah korban endemi terbesar setelah China, telah menutup total semua aktivitas bisnis selain supermarket, toko makanan, apotik.






