Pasangan USD/JPY roboh dari rekor paling tinggi harian pada 108.08 ke 107.40-an dalam perdagangan session New York ini 16/4.
Serangkaian data perumahan serta pengangguran Amerika Serikat yang menyedihkan sudah menggerakkan investor untuk kembali lagi mengganti asset berdenominasi USD dengan asset yang lebih aman. Namun, pergerakan bertambahnya pengangguran sebetulnya telah turun.
Departemen Tenaga Kerja AS memberikan laporan jumlah klaim pengangguran mingguan makin bertambah 5.2 juta selama minggu kemarin.
Angka itu tambah tinggi dibandingkan harapan yang cuma 5.1 juta serta bawa rekor pengangguran terasuransi sampai melebihi rekor paling tinggi Mei 1975.
Namun, data lebih rendah daripada peningkatan 6.6 juta pada minggu awalnya. Klaim awal masih tinggi sekali, tapi dengan laporan 5.2 juta sedikit di bawah konsensus 5.5 juta serta minggu kemarin 6.6 juta.
Data ini hari mengisyaratkan jika peningkatan pekanan dalam klaim pengangguran nampaknya telah melalui puncaknya, tutur Andrew Grantham, seorang ekonom dari CIBC Capital Markets.
Keinginan makin bertambah untuk laporan Non-farm Payroll yang akan dikeluarkan awal bulan depan.
Harapannya, peningkatan pengangguran akan selekasnya diikuti oleh peningkatan rekrutmen pegawai baru, sebab beberapa orang yang kehilangan pekerjaan diinginkan selekasnya cari lowongan serta mendapatkan pekerjaan lagi. Tetapi beberapa faksi menyangsikannya.
Payroll jarang-jarang jatuh sekitar peningkatan klaim penganggura, sebab klaim pengangguran tidak memberitahu kita apa saja mengenai rekrutmen bruto.
Seringkali orang yang kehilangan pekerjaan serta selekasnya mengklaim tunjangan pengangguran selanjutnya cepat temukan tempat baru.
Tetapi sekarang, kami memprediksi banyak orang yang telah ajukan klaim untuk menghajar data Payroll, sebab tanpa ada pergerakan rekrutmen reguler yang tidak ada sekarang sebab limitasi sosial untuk membendung epidemi COVID-19 lebih kecil dibanding rasio hilangnya pekerjaan, tutur Ian Sepherdson dari Pantheon Macroeconomics.
Sepherdson mengacu pada riwayat kritis Oktober 1929 dimana tingkat pengangguran perlu waktu sekian tahun untuk mencapai puncak pada 24.9 %.
Dia memprediksi lockdown gara-gara COVID-19 yang berjalan sekarang di beberapa negara sisi AS, akan mengacaukan pasar tenaga kerja ditempat minimal sampai dua bulan ke depan.






