Pound diperdagangan volatile pada bermacam mata uang mayor lain mendekati hari-H pemilu Inggris keesokan hari.
Pasangan mata uang GBP/USD sempat turun sampai 1.3107 pada session Asia 11/12, tapi melompat ke rata-rata 1.3186 pada session Eropa.
Tempatnya relatif konstan serta berkonsolidasi di posisi tinggi pada session New York, sesaat trader serta investor pilih untuk wait-and-see sampai dipublikasikannya hasil pemilu awal.
Instansi analisa YouGov meluncurkan hasil jajak opini terakhir kalinya yang disortir dengan cara MRP pada pagi hari barusan.
Hasil jajak opini yang populer tepat itu tampilkan prediksi pencapaian partai Konservatif di parlemen Inggris menyusut dari 359 bangku jadi 339 bangku, sedang partai Labour malah alami penambahan dari 211 jadi 213.
YouGov memberikan tambahan ada peluang realisasi hasil pemilu Inggris yang lebih ketat sampai melahirkan parlemen menggantung seperti tahun 2017 kemarin.
GBP hadapi tindakan jual dari posisi paling tinggi minggu ini, sesudah hasil jajak opini MRP YouGov tunjukkan keunggulan partai Konservatif semakin menyempit, tutur Robin Wilkin dari Lloyds Bank.
Proyeksi masih mengestimasikan kemenangan sebagian besar buat partai Konservatif.
Tapi tambah lebih kecil dibanding perkiraan awal yang dikeluarkan beberapa minggu lalu, serta YouGov menjelaskan mereka tidak dapat mengecualikan peluang parlemen menggantung karena ketidakpastian statistik, tutur Allan von Mehren dari Danske Bank.
Perkiraan fundamen kami masih kemenangan Konservatif, tapi karena prediksi paling baru, hal tersebut jadi kurang tegas dibanding prediksi awalnya.
Sekarang, aktor pasar memandang kemenangan partai Konservatif yang di pimpin oleh PM Boris Johnson jadi hanya satu skenario bullish buat Pound.
Kemenangan Johnson akan sangat mungkin pemrosesan brexit sesuai dengan deadline pada 30 Januari 2020.
Di lain sisi, kemenangan partai Labour atau pencapaian suara yang hampir seimbang parlemen menggantung di kuatirkan selalu menutup ketidakpastian brexit dalam periode lebih lama .
Richard Falkenhäll, satu orang ahli taktik forex senior di SEB menjelaskan jika parlemen menggantung akan lemahkan Poundsterling.
Skenario yang tidak tentu tanpa ada kepemimpinan yang pasti semacam ini akan tingkatkan efek Inggris keluar tanpa ada persetujuan dari Uni Eropa pada 31 Januari, hingga jadi fakta kenapa ini akan menyebabkan pelemahan GBP dengan relevan diawalnya.
Tetapi, selanjutnya, dia menjelaskan jika parlemen menggantung bisa saja jelek buat GBP dalam periode pendek saja.
Dalam periode panjang, gerakan dapat lebih positif bila partai-partai paling besar dapat membuat satu konsolidasi serta Uni Eropa meluluskan perpanjangan deadline , hingga buka peluang dilakukan referendum brexit ke-2.
Meskipun begitu, Falkenhäll memperjelas sekarang ini kelihatannya seperti pilihan yang begitu jauh, digabungkan dengan beberapa sekali ketentuan.






