
DXY naik tipis 0.06 % ke rata-rata 97.75 dalam perdagangan hari Selasa ini 24/12, ditengah-tengah kurangnya volatilitas mendekati libur perayaan Natal.
Beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang dikeluarkan semenjak akhir minggu tunjukkan kapasitas yang memberi kepuasan.
Oleh karenanya, Grenback masih kuat versi Euro serta Poundsterling yang masih dirundung banyak ketidakpastian berkaitan brexit serta perlambatan ekonomi.
Data yang diterbitkan di hari Jumat lalu tunjukkan jika perkembangan ekonomi AS bertambah dengan pergerakan tahunan 2.1 % pada kuartal III/2019, sesuai perkiraan awalnya.
Data berbelanja customer mencatat kenaikan 0.4 % pada bulan November, sebab warga tingkatkan budget untuk beli kendaraan bermotor serta perawatan kesehatan.
Semuanya dipandang positif buat Greenback, hingga meniadakan pertaruhan sekitar intimidasi krisis dalam tempo dekat.
Data ekonomi yang dirillis di hari Senin tidak mengubah kepercayaan positif pada outlook ke depan. Data penjualan rumah baru New Home Sales bertambah 1.3 % Month-over-Month pada bulan November 2019.
Meskipun tidak dapat seutuhnya menyeimbangi penurunan 2.7 % pada era sebelumnya, tapi score itu jauh melewati harapan awal yang dibanderol pada 0.3 % saja.
Diluar itu, ada banyak unsur lain yang memberi dukungan reli Dolar AS. Dari mulai kepercayaan jika usaha impeachment pada Presiden Donald Trump akan dihentikan oleh Senat AS, sampai akan ditandatanganinya persetujuan dagang fase-1 dengan China pada bulan Januari.
Meskipun begitu, beberapa analis memeringatkan jika minimnya volatilitas dalam perdagangan akhir tahun dapat menyebabkan gerakan yang di luar rutinitas.
Satu hal yang butuh diawasi ialah apa pemain pasar memotong tempat short-Yen mendekati periode berlibur, sebab kecemasan akan berlangsungnya flash crash seperti satu tahun waktu lalu, kata Minori Uchida, pimpinan analis mata uang di MUFG Bank, seperti diambil oleh Reuters.
Kathy Lien dari BK Asset Management mengemukakan banyak hal yang dapat menyebabkan tindakan jual cemas diawalnya tahun.
Diantaranya peluang peluncuran misil oleh Korea Utara di hari Natal, kemerosotan dalam negosiasi dagang AS-China, ketidakpastian brexit, serta efek pemakzulan Trump.






