Beranda pendidikan forex Hiperinflasi Venezuela: Hingga Secangkir Kopi Seharga 2 Juta

Hiperinflasi Venezuela: Hingga Secangkir Kopi Seharga 2 Juta

660
0

Minggu yang lalu, IMF International Monetary Fund mengingatkan jika hiperinflasi di Venezuela dapat sampai 1, 000, 000 % dalam tahun 2018 ini.

 

Bahkan juga, Bloomberg memberikan laporan, harga secangkir kopi susu di negeri yang tengah dirundung resesi berat itu sudah sampai 2, 000, 000 Bolivar, naik dari 1, 400, 000 satu minggu yang sebelumnya. Apakah pemicu terjadinya krisis Venezuela?

 

Hiperinflasi merupakan akselerasi inflasi terlalu berlebih. Pada kondisi ini, kenaikan harga-harga barang serta layanan sampai beberapa ratus bahkan juga beberapa ribu % dalam tempo singkat juga mengikis nilai ganti mata uang negara berkaitan.

 

Dalam laporannya, IMF memperbandingkan krisis Venezuela yang tengah berjalan sekarang ini dengan beberapa resesi sangat kronis dalam histori, salah satunya krisis Jerman 1923 serta krisis Zimbabwe 1998.

 

Kesamaan pada semua krisis ekonomi itu merupakan hiperinflasi yang kebablasan sampai nilai ganti mata uangnya jatuh, sementara masyarakatnya tidak dapat penuhi keperluan keseharian karena kelangkaan barang supply.

 

Daftar Harga Kopi Pada Saat Krisis

 

Dalam sejarah krisis Venezuela, hiperinflasi diawali seputar tahun yang lalu, sesudah Presiden Nicolas Maduro berusaha ambil jalan singkat untuk memecahkan krisis sosial-politik dengan cetak uang dengan agresif.

 

Salah satunya strateginya yang kontroversial merupakan meningkatkan upah minimum nasional sampai 4 kali lipat. Meski begitu, inflasi naik tambah lebih tinggi lagi. Upah minimum yang cuma sekitar pada 5 juta Bolivar per bulan itu bahkan juga tidak dapat menebus tiga cangkir kopi susu.

 

Jika diurut ke belakang, krisis Venezuela mulai mengemuka selesai wafatnya Presiden Hugo Chavez Maret 2013 serta naik panggungnya Presiden Nicolas Maduro.

 

Yang sebelumnya, Maduro menjabat menjadi wapres Chavez, tapi ia lalu memenangi 50. 8 % nada pada Pemilihan presiden yang diselenggarakan pada bulan April 2013.

 

Keadaan ekonomi telah lebih buruk semenjak beberapa tahun paling akhir pemerintahan Chavez, tapi ketegangan politik jadi memperburuk kondisi sampai mencapai puncak berbentuk memprotes berdarah pada Februari 2014.

 

Selama 2013-2015, Presiden Maduro membungkam kelompok-kelompok oposisi dengan beberapa langkah, baik lewat dakwaan kriminil ataupun muslihat.

 

Pada bulan Desember 2015, oposisi pada akhirnya menyatu serta sukses kuasai kursi sebagian besar dalam Parlemen. Selang beberapa saat, pada Januari 2016, Maduro menginformasikan status  darurat ekonomi .

 

Oposisi juga tidak berhasil memakzulkan Maduro, bahkan juga Mahkamah Agung Venezuela sukses  mengkudeta  Parlemen. Mulai sejak itu, demonstrasi serta ketegangan politik selalu menyelimutinya negeri yang dulu populer menjadi  pabrik Ratu Kecantikan  itu.

 

Di lain sisi, krisis Venezuela lebih buruk karena keadaan kas negara kosong serta instabilitas politik membuat negara tidak dapat menyiapkan barang keperluan pokok dengan mencukupi. Ketiadaan barang keperluan membuat harga-harga melejit cepat serta melahirkan hiperinflasi.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses