Harga minyak baru-baru ini mengalami kenaikan khususnya di perdagangan Asia pada hari Selasa, 28 November 2023. Melalui laporan media menjelaskan bahwa OPEC+ memiliki sebuah rencana untuk memperpanjang atau bahkan memperdalam pemotongan produksi yang tengah berlangsung pada pertemuan minggu ini.
Tentu saja antisipasi terhadap sejumlah data ekonomi yang akan diluncurkan minggu ini juga membuat investor sebagian besar tidak banyak bertindak, dengan hanya membatasi pergerakan besar saja. Reuters memberikan laporan jika saja Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan mitranya (OPEC+) memiliki niatan untuk secara kolektif memangkas produksi pada pertemuan hari Kamis ini.
Kenaikan Harga Minyak Dampak Pasar Menantikan Pemotongan OPEC+
Alasan utamanya adalah karena adanya rasa kekhawatiran akan permintaan yang lesu membuat harga minyak sekali lagi mengalami kesulitan untuk bertahan di atas 80 USD per barel. Penundaan pertemuan OPEC+ yang akan datang, menjadi tanggal 30 November dari 26 November juga telah menekan harga minyak. Khususnya karena laporan-laporan menyiratkan bahwa penundaan tersebut terjadi karena ketidaksepakatan tentang pengurangan produksi di antara negara-negara anggota.
Untuk saat ini harga dari minyak Brent mengalami kenaikan mencapai 0,3 persen di angka 80,20 USD per barel. Kemudian, untuk harga minyak WTI juga mengalami kenaikan sebesar 0,5 persen ke angka 75,20 USD per barel pada pukul 08.39 WIB. Tentu saja untuk keduanya sekarang ini mengalami penurunan selama lima pekan secara beruntun.
Yang jelas Arab Saudi dan Rusia memimpin OPEC+ dalam memotong produksi khususnya selama setahun terakhir. Ini dilakukan ketika kekhawatiran akan memburuknya permintaan global menurunkan harga. Arab Saudi sebagai pemimpin fe-facto OPEC+ juga menggabungkan penurunan ini dengan spekulan yang berspekulasi khususnya pada pasar minyak.






