Pana penutupan pasar hari Kamir, harga emas mengalami penurunan setelah imbal balik obligasi Amerika Serikat dan Dolar mendapatkan penguatan ketika investor bersiap untuk menghadapi kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.
Meskipun permintaan emas mengalami kenaikan dipicu oleh perang Ukraina dan Rusia serta melambungnya tingkat inflasi, harga emas masih dalam trek untuk kenaikan mingguan. Emas diperdagangkan oleh New York Exchange menurun 9,8 Dolar atau 0,49 persen ke angka 1.974,94 Dolar per ons.
Analis Senior OANDA, Edward Moya mengucapkan bahwa pendekatan yang lebih dovish dari ECB memberikan dorongan bagi Dolar untuk naik. Emas mengalami tekanan yang hebat kali ini. Saat ini, pasar emas secara teknis mengalami pembelian yang berlebihan.
Dikala bank sentral seluruh dunia berpacu untuk menaklukkan kenaikan inflasi, Bank Sentral Eropa (ECB) tetap pada pendiriannya untuk kembali menarik stimulus pada tahun ini. Hal ini dianggap sebagai langkah yang kurang agresif dalam memerangi inflasi.
Indeks Dolar yang mencatat kekuatan Dolar terhadap enam mata uang utama naik 0,5 persen yang menyebabkan harga emas dalam dolar menjadi lebih mahal bagi konsumen yang memegang mata uang lain. Emas juga menurun karena imbal hasil obligasi tenor 10 tahun Amerika serikat yang menjadi acuan mengalami kenaikan.
Meskipun emas dinilai sebagai pelindung nilai menghadapi inflasi dan kondisi geopolitik, kenaikan suku bunga meningkatkan biaya untuk memiliki emas sehingga investasi yang dilakukan menurun imbal hasilnya.
Harga emas tertahan perang Ukraina
Keadaan perang di Ukraina yang telah berlangsung sejak akhir Februari terus berlanjut. Amerika Serikat telah mengumumkan bahwa akan mengirim tambahan 800 juta Dolar dalam bentuk bantuan militer untuk Ukraina, untuk menanggulangi serangan Rusia yang diprediksi akan dilancarkan menuju bagian timur negara tersebut.
Pelaku pasar juga belum mengetahui, apakah ini merupakan efek sementara atau mereka sedikit mundur karena pengumuman yang dikeluarkan untuk melakukan manuver yang sedikit dovish dari sebelumnya.
Bank Korea mengeluarkan kebijakan moneter terbarunya yakni menaikkan suku bunganya menjadi 1,5 persen. Investor kini menunggu keputusan kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Bank Sentral Eropa pada Kamis sore waktu setempat.
Bank Rakyat China diperkirakan akan mengeluarkan kebijakan memotong suku bunga peminjaman satu tahun pada hari Jumat. Kebijakan ini merupakan yang kedua kalinya dalam tahun ini. Bank Rakyat China juga diperkirakan akan menurunkan rasio kebutuhan negara sesegera mungkin.






