Pasangan mata uang EUR/USD meneruskan gerakan sideways dalam perdagangan sesion Eropa hari Jumat ini 7/1/2022 meskipun launching data inflasi Zone Euro memperlihatkan kenaikan yang jauh melebihi harapan.
Masalahnya arah peraturan bank sentra Eropa ECB peluang tidak akan berbeda sekalinya di tengah-tengah pergerakan inflasi yang semakin meninggi.
Euro Menurun Walau Inflasi Eropa Naik
Laporan Eurostat memperlihatkan jika pergerakan inflasi customer melesat sampai 5 % Year-on-Year pada Desember 2021.
Angka itu semakin tinggi dibandingkan pergerakan inflasi November yang sejumlah 4.9 %, sekalian melampaui harapan kesepakatan yang sejumlah 4.7 %.
Pergerakan inflasi pokok terkerek dari 2.5 % jadi 2.6 % Year-on-Year.
Umumnya, data inflasi yang tinggi menyaratkan mata uang akan kuat karena bank sentra condong meningkatkan suku bunga sama sesuai dengannya, kata Ulrich Leuchtmann, kepala penelitian FX dan komoditas di Commerzbank.
Tetapi biasanya tidak berlaku dalam masalah ini untuk euro, karena ECB sedang wait-and-see.
Dalam masalah ini, tidak ada argumen menjadi bullish pada euro, karena kejutannya tidak lumayan besar untuk mengganti harapan suku bunga ECB –red.
Sebuah peralihan akan memerlukan surprise masif, tapi data ini tidak lumayan besar, tandas Leuchtmann.
Beberapa petinggi bank sentra Eropa ECB sudah berkali-kali memperjelas jika mereka memprediksi inflasi akan melamban dengan bertahap dalam tahun 2022, hingga tidak perlu meningkatkan suku bunga tahun ini.
Beberapa permasalahan lain masih tetap membelit Zone Euro, terutamanya masalah rantai suplai.
Launching data terkini memperlihatkan export Jerman semakin meningkat di bulan November 2021, tapi output industrinya jeblok.
Anders Svendsen, seorang ekonom dari Nordea Markets, menjelaskan, Perkiraan 5 % YoY untuk inflasi teritori Euro pada Desember peluang mengidentifikasi pucuk paling tingginya.
Inflasi akan jatuh sepanjang 2022 tapi masih tetap ada di atas sasaran ECB, minimal sepanjang paruh perdana tahun ini. Inflasi pokok peluang jadi kunci outlook ECB.
Dibandingkan data inflasi Eropa, EUR/USD lebih dipengaruhi oleh publisitas laporan Non-farm Payroll Amerika Serikat.
Selekasnya sesudah launching data NFP yang mengkhawatirkan, EUR/USD naik sekitaran 0.2 % ke range 1.1330-an. Tetapi, katalis ini peluang tidak akan sanggup menggerakkan naiknya EUR/USD dalam periode panjang.
Federasi Reserve AS tetap ada dalam lajur ke arah rate hike tahun ini walau keadaan pasar tenaga kerja tidak sebagus harapan, hingga prediksi suku bunga AS lebih baik dibandingkan Zone Euro.






