Efek dari ucapan Ketua Federal Reserve Amerika Serikat Jerome Powell pada posisi dolar yang sebelumnya kuat, kini perlahan menghilang. Pada perdagangan hari Selasa, harga dolar menurun akibat bangkitnya pasar ekuitas yang menolong sentimen pasar kepada komoditas yang lebih beresiko.
Ucapan Powell yang membuka kemungkinan untuk kenaikan suku bunga lebih dari 25 basis poin di pertemuan penentuan kebijakan yang akan datang untuk menahan laju inflasi, membuat Dolar menunjukkan salah satu kenaikan persentase terbesarnya dalam dua minggu terakhir pada perdagangan hari Senin.
Goldman Sachs kini mengantisipasi ucapan Powell bahwa bank Sental akan menaikkan suku bunga sebesar 50 poin basis pada pertemuan bulan Mei dan Juni.
Para investor saat ini berada dalam posisi siap untuk mengambil resiko dengan keadaan pasar saham Amerika yang meningkat serta menurunkan daya tawar logam terhadap Dolar dengan ekuitas yang mendapatkan dorongan sebagai bagian dari keuntungan bank pada kemungkinan naiknya suku bunga.
Presiden Fed St.Louis James Bullard mengungkapkan kembali pernyataannya agar The Fed melakukan pergerakan lebih agresif, pada Bloomberg TV. Presiden Fed San Fransisco Mary menyampaikan bahwa Ia percaya resiko utama ekonomi semakin buruk disebabkan oleh keadaan Ukraina yang semakin memburuk juga kasus COVID di China yang mengganggu rantai suplai.
Posisi Yen terhadap mata uang lain termasuk dolar melemah
Yen kembali berada pada tren melemah setelah Bank of Japan memperbaharui posisinya untuk menetapkan kebijakan moneter yang “sangat santai”. Yen menyentuh angka terendah dalam enam tahun terakhir pada 121,03 per dolar dan pelemahan terakhir pada angka 120,72 terhadap dolar.
Yen juga mengalami penurunan menghadapi mata uang lain, dengan Euro menyentuh poin tertinggi selama lima bulan terakhir pada angka 133,33 dan sempat menyentuh 133,17 per dolar.
Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde pada hari Senin berpandangan bahwa pihaknya dan The Fed memiliki pendapat masing-masing terhadap konflik Ukraina karena keadaan tersebut menimbulkan efek berbeda pada kedua kubu.
Namun sehari setelahnya, Pembuat Kebijakan Bank Sentral Eropa Francois Villeroy de Galhau mengatakan bahwa Bank Sentral perlu untuk melihat dari perspektif lain di luar proyeksi jangka pendek dalam harga minyak dan berkonsentrasi untuk meredam gejolak inflasi.
Euro naik sekitar 0,13% ke angka 1,1028 per dolar. Mata uang tunggal Eropa ini sempat melemah dalam bulan terakhir terkait krisis yang melanda Ukraina, menyebabkan naiknya harga sumber daya energi.






