Dalam perdagangan dolar Australia menurun keseluruhan hari Selasa 2 Oktober, sesudah bank sentra Reserve Bank of Australia RBA mengatakan jika mereka tidak merencanakan mengubah kebijakan moneter untk tahun ini ataupun tahun kedepan.
Sampai akhir session Eropa, pasangan mata uang AUD/USD sudah turun 0.60 % ke sebesar 0.7178, sesaat AUD/NZD condong flat.
Saat rapat kebijakan moneter ini hari, RBA menginformasikan masih membiarkan suku bunga berada di angka level 1.50 % untuk bulan ke-27 beruntun.
Berita tiadanya pertukaran kebijakan itu sebetulnya sesuai dengan harapan pasar. Akan tetapi, dalam pertemuan wartawan, Gubernur RBA Philip Lowe juga mengutarakan pesan yang dinilai begitu dovish.
Sesuai keterangan Philip Lowe, dari outlook ekonomi domestik ataupun global masih terlihat cerah, tapi desakan inflasi Australia masih tetap kurang kuat. Oleh karena itu, RBA tidak dapat memperhitungkan kenaikan suku bunga.
Dalam hal sama juga, Lowe mengingatkan jika inflasi akhir tahun ini dapat menyedihkan buat petinggi RBA serta aktor pasar, atau mungkin dengan kata lainnya, inflasi bisa menjadi akan turun lebih rendah dari harapan.
“Inflasi saat ini seputar 2 %. Perkiraan pusat untuk inflasi ialah tambah tinggi di tahun 2019 serta 2020 dibandingkan saat ini.
Selain itu, penurunan temporer beberapa harga di kuartal ke-3 diekspektasikan menyebabkan inflasi pada tahun ini yang semakin rendah, bukannya tambah tinggi,” papar Gubernur Lowe.
Dalam moment yang sama, Lowe menuturkan optimismenya tentang outlook pasar tenaga kerja yang ada di Australia. Bahkan dia juga mengekspektasikan untuk menciptakan lapangan kerja ke depan selalu bertambah serta menyebabkan perkembangan upah, hingga selanjutnya akan mensupport outlook inflasi tambah tinggi.
Namun, ia mengingatkan juga jika keadaan pasar property di kota-kota Sydney serta Melbourne sudah lebih buruk, sebab pengetatan likuiditas sudah memaksa beberapa bank untuk meningkatkan bunga utang mereka.
Nilai tukar Dolar Australia sudah turun 7.5 % pada Dolar AS dalam tahun ini, karena gabungan beberapa aspek seperti perseteruan dagang AS-Tiongkok yang jadi memperburuk sentimen pada mata uang-mata uang komoditas seperti Aussie.
Di dalam keadaan ini, prospek suku bunga rendah yang berkelanjutan ikut jadi memperburuk outlook mata uang bergambar Kanguru itu.






