DXY berjalan dalam posisi hanya terbatas di seputar 96.90 pada perdagangan hari Rabu ini 6/Maret, dengan suport yield obligasi AS yang tambah tinggi dan rangkaian data-data ekonomi yang mengungguli harapan. Selain itu, beberapa mata uang mayor lainnya malah dibebani oleh beberapa permasalahan domestik.
Di hari Selasa, data Purchasing Managers’ Index PMI untuk bidang non-manufaktur Amerika Serikat dilaporkan alami kenaikan dari 56.7 jadi 59.7 dalam bulan Februari 2019 melebihi harapan awal yang dibanderol pada 57.3.
Elemen ketenagakerjaan dalam data itu alami penurunan dari 57.8 jadi 55.2. Akan tetapi, kegiatan usaha melompat cepat dari 59.7 jadi 64.7.
Laporan New Home Sales yang dilaporkan oleh instansi berlainan pun tunjukkan kenaikan cepat 3.2 % untuk bulan Desember 2018. Runtutan data positif ini mengangkat yield obligasi AS sekaligus juga menggerakkan animo Greenback.
Di lain sisi, beberapa mata uang mayor malah menanggung derita penambahan desakan bearish. Pasangan mata uang AUD/USD turun seputar 0.80 % ke posisi 0.7027, sesudah launching data GDP Australia cuma tunjukkan perkembangan ekonomi 0.2 % memasuki kuartal IV/2018, tumbuh 0.3 % sesuai dengan harapan.
Sean Callow, ahli taktik mata uang senior dari Westpac, menjelaskan, Nampaknya pasar tidak suka melihat perincian laporan GDP itu, contohnya mengkonsumsi rumah tangga yang cuma 0.4 %, revisi turun, serta ketergantungan pada berbelanja publik untuk mengawasi perekonomian masih lancar.
Mata uang Euro pun turun ke level paling rendah dua minggu pada Dolar AS serta bahkan juga tembus ujung psikologis 1.1300, karena tingginya spekulasi jika bank sentra Eropa akan mengemukakan prediksi kebijaksanaan yang berbentuk dovish.
Sebagian besar aktor pasar memprediksi jika ECB akan menggagalkan seutuhnya gagasan kenaikan suku bunga tahun ini serta bahkan juga mulai mengulas peluncuran stimulus moneter baru dalam rapat kebijaksanaan yang diadakan di hari Kamis.
Perihal ini menimbulkan peluang Dolar AS dapat terpukul bila spekulasi berkaitan Euro itu tidak terwujud. Seperti disebutkan oleh Yukio Ishizuki, ahli taktik mata uang dari Daiwa Securities pada Reuters, Euro kelihatannya telah kebanyakan di jual. Bila Euro kembali naik, jadi peluang akan menyebabkan kejatuhan indeks Dolar.






