Kondisi Dolar AS hari ini justru menurun tipis meskipun masih menjadi level tertinggi dalam perdagangan 3,5 bulan terkahir. Hal itu dipengaruhi Dolar AS dalam minggu ini yang mampu bergerak naik dari imbal hasil obligasi selama 1 tahunan. Dari pemerintah AS yang sudah berhasil mencapai 3. 035 %, sebagai pencapaian teratas selama 4 tahun terkahir.
Pada saat memasuki session pasar Asia hari Kamis, USD terlihat bergerak melandai, kondisi tersebut diperkirakan karena investor yang kian gelisah efek naiknya Yields obligasi AS.
Pasangan USD/JPY yang masih berada diposisi 109. 344 dari posisi sebelumnya di 109. 413. Sedangkan untuk pasangan USD/CAD menurun dari 1. 2886 menuju 1. 2835. Untuk Indeks Dolar yang mengukur kemampuan Greenback pada enam mata uang mayor berhasil menembus angka 91.181 sebelumnya di 91. 261. Dalam satu pekan ini, indeks Dolar telah sukses mengumpulkan kenaikanan 0. 9 %.
Sesuai dengan penjelasan dari Stephen Innes, yang menyebutkan jika pelemahan Dolar AS dalam dekat ini nampaknya masih belum bisa terjadi, terkecuali terjadi kejatuhan masif pada pasar ekuitas AS namun itu juga sangat kecil kemungkinan akan terjadi. Selain itu, kenaikanan untuk suku bunga dari The Fed dalam bulan Juni yang tidak diragukan lagi.
Namun pendapat tersebut berbeda seperti yang dingkapkan, Kathy Lien yang mengakui tidak heran jika kondisi dari bullish Dolar AS kian mulai melunak terhadap mata uang Euro, Poundsterling dan Dolar Kanada. Pasalnya, investor hingga saat ini semakin waspada dalam menempatkan posisi Long khusus untuk mata uang Dolar AS. Kenaikanan Yield obligasi lebih tinggi akan lebih mengkhawatirkan akan bisa meneror pemulihan pertumbuhan ekonomi serta pasar saham.
Pasangan EUR/USD bergerak naik dari 0. 1 % ke angka 1. 2173, namun berada di level rendah dalam perdangan hari Rabu kemarin. Konsentrasi untuk jangka pendek kemungkinan bisa merubah kondisi dari EUR/USD pada saat rapat ECB. Untuk hasil pertemuan tersebut akan segera diumumkan waktu petang besuk.






