Semakin meningkatnya Nilai tukar Dolar AS, yang terbukti saat ini masih tetap bertengger mendekati level tertinggi dalam tahun 2018 ini. Dari data ketenagakerjaan serta perkembangan gaji yang belum sepenuhnya sesuai dengan target dalam pekan kemarin, ternyata tidak memberikan pengaruh yang besar tentang pertumbuhan ekonomi yang terjadi di AS bahkan gejolak perang dagang AS vs China bukan menjadi halangan.
Sedangkan utnuk Indeks Dolar ada pada level 92. 461, menurun 0. 1 % saja dari puncak tinggi 92. 908 yang terwujud hari Jumat kemarin. Berbeda Indeks Dolar tunjukkan kenaikan dalam tiga minggu berturut-turut sampai menjangkau level tertinggi mulai sejak akhir bulan Desember.
Laporan Tenaga Kerja Belum Bisa Menggoyahkan Persepsi Rate Hike
Jumat kemarin, bertambahnya lapangan kerja AS dilaporkan ada dibawah harapan. Selain itu, rata-rata pendapatan pekerja /jam sebagai satu diantara data terutama untuk mempertimbangkan desakan inflasi, juga alami kenaikan dibawah target. Bulan April, rata-rata dari pendapatan pekerja AS /jam cuma bertambah 0. 1 %, dibanding dengan project dari perolehan sebesar 0. 2 %.
Akan tetapi, untuk jumlah tingkat Pengangguran AS menurun dengan jumlah yang juga mengkhawatirkan bahkan lebih dari 17 1/2 tahun menjadi yang terendah sebesar ke 3. 9 %, terdorong dari sejumlah warga Amerika Serikat yang memutuskan untuk berhenti dari dunia kerja. Dengan faktor tersebut tidak akan membuat pasar akan segera merubah persepsi dan tergetnya meskipun dari The Fed Menaikkan suku bunganya, paling tidak dua atau 3 jumlah kenaikan yang akan dilakukan hingga akhir tahun.
Hal ini sudah menjadi target Rate Hike yang akan mensupport penguatan Dolar AS versus mata uang mayor yang lainnya. Sedangkan untuk pasangan USD/JPY dalam perdagangan berada di 109. 258 bergerak naik sebelumnya berad diposisi 108. 880 bahkan itu bisa dibuktikan tadi pagi. Sedangkan untuk pasangan EUR/USD menurun drastis ke posisi 1.1930 dari sebelumnya berada di 1. 1969.






