DXY melejit lebih dari 0.5 % ke rata-rata 97.26 pada awal session New York ini hari 5/7, selesai publikasi data Non-farm Payroll serta beberapa data ketenagakerjaan Amerika Serikat lain.
Dolar AS kuat mencolok pada semua mata uang mayor. Tempat EUR/USD turun lebih dari 0.5 % ke posisi 1.1227, sesaat USD/JPY melompat dalam prosentase hampir sama ke posisi 108.40.
Data pemerintah AS tunjukkan penciptaan lapangan kerja yang melewati harapan pada periode Juni 2019, walau tingkat pengangguran bertambah.
Data Non-farm Payroll mencatat kenaikan sekitar 224,000; jauh di atas perkiraan awal yang cuma 160,000 atau perolehan 72,000 pada bulan Mei.
Data Non-farm Payroll itu memvisualisasikan keadaan ekonomi AS yang lebih cerah daripada apa yang terlihat pada tanda bidang manufaktur serta perumahan belakangan ini.
Karena itu, aktor pasar hampir tidak mempedulikan mengecewakannya tingkat pengangguran serta perkembangan upah. Tingkat pengangguran diadukan naik dari 3.6 % jadi 3.7 % dalam periode Juni 2019.
Selain itu, Average Hourly Earnings statis pada posisi 3.1 % Year-on-Year, walau awalnya diinginkan naik jadi 3.2 %. Sesudah launching rangkaian data ketenagakerjaan AS ini, Dolar AS langsung reli serempak dalam semua pasangan mata uang di pasar forex.
Dolar AS bahkan juga melompat seputar 1 % versi Dolar New Zealand, serta USD/CHF naik lebih dari 0.7 %. Tetapi, beberapa ahli memandang jika data itu tidak merubah harapan pemotongan suku bunga Fed bulan ini.
Marc Chandler dari Bannockburn Global Forex menjelaskan jika data ini cuma mengendalikan diskusi tentang pemotongan suku bunga sebesar 50 basis point yang menyatakan dalam beberapa waktu terakhir.
Tetapi, harapan pemotongan suku bunga Fed sebesar 25 basis point tersebut masih marak tersebar di golongan investor serta trader.
Pasar suku bunga futures masih memberikan indikasi prospek pemotongan sebesar 25 % pada rapat kebijaksanaan Federal Reserve tanggal 30-31 Juli akan datang, dan 3 kali pemotongan sampai akhir tahun ini.
Permasalahannya, pelonggaran kebijaksanaan moneter itu memanglah bukan dibutuhkan untuk menangani permasalahan pengangguran, tetapi untuk menyeimbangi prediksi lesunya inflasi dan tersendatnya perkembangan ekonomi yang diakibatkan oleh perselisihan dagang AS dengan China.






