Situasi perdagangan pasar uang Asia Pasifik mendekati siang ini, dolar AS masih tetap bergerak menguat berbarengan dengan masih tetap ada dampak jelek dari krisis Turki yang menempa dunia perdagangan sejak dari akhir minggu kemarin.
Seperti yang sudah kita ketahui jika di perdagangan sebelunmnya, keadaan greenback memberi tekanan pada beberapa mata uang utama, hingga hal seperti ini menyebabkan EURUSD pada sesi penutupan mendatar di posisi 1,1345.
GBPUSD sesi penutupan melemah di posisi 1,2695, AUDUSD sesi penutupan mendatar di posisi 0,7239 serta USDJPY sesi penutupan melemah di posisi 110,71.
Sedangkan di pagi hari ini, EURUSD berjalan di posisi 1,1341, GBPUSD berjalan di posisi 1,2906, AUDUSD di posisi 0,7231 serta yen di posisi 110,54.
Untuk perdagangan yang sebelumnya, indeks dolar AS perdagangan dikit sukses lebih baik dengan support sebelumnya jika data penjualan eceran AS yang lebih baik, sudah membuat indeks dolar ada di tempat yang menguat sejak dari akhir minggu kemarin sampai sekarang ini walau Turki memperoleh suntikan dana dari Qatar sebesar $15,3 milyar.
Saat Trump menjatuhkan kebijakan baru pada Turki dengan menambahkan tarif bea masuk logam Turki di akhir minggu kemarin, menimbulkan gejolak yang ada di pasar uang global dengan kecemasan tidak berhasil bayar yang akan menempa Turki, hingga safe haven dolar selalu menempa pasar uang sampai sekarang ini.
Kecemasan ini muncul karena mata uang Lira anjlok lumayan besar sejak dari minggu tempo hari cuma melemah 45%, hingga menimbulkan bagian kecemasan investor jika Turki dapat alami keadaan jelek yakni ancaman tidak berhasil bayar pada hutang-hutangnya yang selalu menumpuk.
Krisis Turki sudah membawa akibat baru pada gerakan mata uang dunia sampai sekarang ini. Semua mata uang dunia terimbas runtuhnya Lira, terutamanya euro serta pound dan dolar Australia karena Turki tengah terkait erat dengan Uni Eropa serta China dan Rusia.
Ditambah dengan inflasi Turki yang bergerak menguat akan tetapi suku bunga Turki dilewatkan rendah karena desakan dari pemerintah Turki, hingga beban hutang berbentuk dolar AS semakin menumpuk.






