Index dolar AS DXY merayap naik hampir 0.2 % ke range 90.78 dalam perdagangan sesion New York ini hari 29/4/2021 saat launching data GDP Amerika Serikat, namun tetap dalam waktu paling rendah 2 bulan.
Perkembangan Gross Domestic Product GDP di negeri Paman Sam jauh melebihi perkiraan kesepakatan, hingga tumbuhkan kepercayaan diri mengenai outlook ekonomi global. Meskipun begitu, ini tidak bisa jadi katalis bullish yang kuat untuk USD.
US Bureau of Economic Analysis BEA memberikan laporan jika perkembangan GDP Amerika Serikat capai 6.4 % Quarter-over-Quarter pada kuartal I/2021.
Angka itu melampaui perkiraan kesepakatan yang cuman sejumlah 6.1 %, sekalian semakin tinggi dibandingkan perkembangan 4.3 % pada kuartal awalnya.
Motor perkembangan ekonomi ini kali ialah customer AS yang menggulirkan tabungan dan kontribusi langsung tunainya untuk belanja secara masif.
Disamping itu, perbaikan perekonomian tergerak oleh investasi masih residensial dan nonresidensial.
Dengan mengasumsikan beberapa varian COVID masih terselesaikan, perkembangan kuartal ke-2 siap untuk terakselerasi selanjutnya karena pembukaan kembali usaha dan ekonomi AS bersambung, kata Katherine Judge, seorang ekonom dari CIBC Capital Markets.
Perputaran stimulan tunai baru dan pembaruan pasar tenaga kerja menggerakkan penghasilan disposabel rumah tangga naik 13.7 % kembali belum disetahunkan pada kuartal ke-2 , menggerakkan tingkat simpanan rumah tangga naik sampai 21 %.
Rumah tangga-rumah tangga mempunyai daya membeli besar untuk menggerakkan berbelanja customer bersamaan melonggarnya peraturan limitasi rutinitas ekonomi dan sosial, tutur Nathan Janzen, senior ekonom dari RBC Capital Markets.
Dua factor yang memberatkan GDP AS terkini ialah pengurangan export dan peningkatan import. Pengurangan export terjadi sebagai akibatnya karena masih kurang kuatnya perkembangan ekonomi di luar negeri.
Karena banyak negara masih berlakukan limitasi ketat atas rutinitas ekonomi dan sosial untuk membendung COVID-19. Di lain sisi, perbaikan perekonomian AS malah menarik semakin banyak import masuk dari luar negeri.
Minus neraca dagang AS itu masih kurang besar untuk mendesak GDP keseluruhannya. Namun, ini memiliki arti AS harus bayar semakin banyak dolar untuk mengimpor barang di luar negeri di tengah-tengah rendahnya penghasilan dari luar negeri.
Minus seperti ini mempunyai potensi mendesak USD dalam periode menengah. Bias dovish dalam informasi Federasi Reserve terkini terus membuntuti beberapa investor dan trader dolar AS.
Tanpa keinginan untuk peningkatan suku bunga dalam kurun waktu dekat, USD makin kehilangan daya magnet investasinya.






