Ketentuan Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa yaitu ketentuan ” paling bodoh ” ke-2 yang sempat dikerjakan oleh satu negara, sesudah pemilu AS untuk Presiden Donald Trump, sesuai dengan keterangan Michael Bloomberg.
” Saya menyebutkan kalau saya fikir itu (Brexit) yaitu hal terbodoh yang sempat dikerjakan negara, ” kata entrepreneur media Bloomberg tersebut di satu acara panel pada Boston dua minggu waktu lalu, yang lalu apa yang ia berikan digali serta ditulis oleh surat berita Guardian hari Selasa.
” Begitu susah untuk mengerti kenapa satu negara yang telah jalan baik menginginkan menghancurkannya, ” imbuhnya.
” Bekas istri saya yaitu seseorang Brit, anak-anak wanita saya mempunyai paspor Inggris, jadi kami menyukai Inggris, negara ini yaitu bapak dari negara kita (AS), saya sangka, tapi apa yang mereka kerjakan tidak baik serta tak ada langkah gampang untuk keluar dari situ disebabkan bila mereka tidak membayar penalti, orang yang lain (negara lain, pelaku bisnis dsb) juga akan drop out, jadi mereka tidak dapat lakukan transaksi seperti sebelumnya, ” tuturnya.
Bloomberg, yang waktu itu ada di London untuk resmikan kantor baru sejumlah $1, 3 miliar di ibukota UK, menyebutkan kalau ketentuan investasi seperti itu mungkin saja juga akan berbeda bila dia sudah memprediksi hasil pengambilan suara Brexit.
” Kami buka satu markas besar Eropa baru yang ada di London, dua bangunan besar serta mahal. Apakah saya sudah mengerjakannya bila saya ketahui mereka juga akan drop out (keluar dari UE)? Saya mempunyai sebagian pemikiran yang mungkin saja tidak saya punyai, tapi saat ini kami disana, kami juga akan begitu suka, ” kata Bloomberg.
Bloomberg mencatat kalau banyak karyawannya di AS serta Inggris sudah memberitahu dia kalau mereka menginginkan meninggalkan tempat ini disebabkan mereka terasa ke-2 negara sudah jadi lebih memilih untk tertutup pada imigrasi. Bloomberg mengulangi komentarnya mengenai Brexit serta Trump di satu acara di Perancis.
Bekas walikota Big Apple, nama beda New York City, berumur 75 tahun itu dipercaya siap berkompetisi dengan Trump pada pemilihan presiden AS dalam tahun lalu tetapi pada akhirnya ia mengambil keputusan tidak ikuti pemilihan itu.






