Mendekati publikasi data US Non-farm Payroll, Reuters atau Bloomberg tentu lakukan survey pada beberapa ekonom tentang berapakah besar perkiraan data NFP mereka.
Jika angka NFP aktual tambah tinggi dibanding perkiraan konsensus ekonom itu, karena itu Dolar AS akan langsung kuat cepat.
Sedang bila angka NFP aktual lebih rendah dibanding perkiraan, karena itu Dolar AS akan langsung turun pada bermacam mata uang lain dalam hitungan detik.
Kenapa hal tersebut berlangsung? Sebab banyak spekulan yang menanti launching US Non-farm Payroll dengan spesial.
Beberapa spekulan itu tidak cuma trader forex kecil-kecilan yang memelototi computer saja.
Tetapi trader kawakan yang bisa jadi telah memakai robot mahal untuk menjumpai angka NFP serta menyelesaikan order yang sesuai dengan.

Sebetulnya, banyak laporan ekonomi lain yang bisa bertambah penting dibanding US Non-farm Payroll.
Namun, laporan-laporan lain itu tidak disoroti demikian rupa oleh beberapa spekulan, hingga mereka dipandang sama utamanya dalam forex trading.
Dari waktu ke waktu, makin banyak trader yang memperhatikan US Non-farm Payroll, hingga membuat kesempatan trading forex yang lama-lama semakin memberikan keuntungan.
Pergolakan harga saat launching US Non-farm Payroll serta dapat sampai 100-250 pips memasuki 1 jam dalam hitungan uang, kisarannya di antara beberapa ratus ribu sampai juta-an Rupiah.
Trader forex mana yang tidak ingin bisa keuntungan sebesar itu dalam tempo sesingkat-singkatnya? Kebanyakan orang pasti ingin, baik trader atau bukan.
Jelas sekali mengapa US Non-farm Payroll penting dalam forex trading.
Tetapi, kesempatan trading ini tidak pas untuk kebanyakan orang, sebab risikonya tinggi sekali.

Anda dapat mendapatkan keuntungan besar dalam sekejap, tapi kerugian besar dapat juga berlangsung dalam tempo cepat sekali.
Beberapa trader yang memprioritaskan keamanan dana umumnya pilih untuk menghindar dahulu, selanjutnya baru mulai trading satu hari sesudah launching US Non-farm Payroll.
Oleh karenanya, The Fed harus pastikan jika keadaan ketenagakerjaan bagus, sebelum meningkatkan suku bunga.
Kalau inflasi tinggi, tapi pengangguran makin bertambah banyak serta tidak ada lapangan kerja baru NFP rendah, karena itu The Fed justru bisa saja memotong suku bunga.
Harapannya, bila bunga utang menyusut, karena itu perusahaan-perusahaan dapat membagikan lebih uang banyak untuk mengambil karyawan baru atau buka pabrik-pabrik baru.
Di lain sisi, suku bunga merubah daya tarik investasi di Amerika Serikat.
Jika suku bunga AS naik, karena itu semakin banyak investor akan tertarik untuk menaruh dananya dalam Dolar AS.
Ini bisa menyebabkan pelarian dana Capital Flight dari beberapa negara berkembang seperti Indonesia, sekaligus juga menyebabkan keruntuhan nilai ganti Rupiah. Kondisi sebaliknya bila suku bunga AS turun.
Suku bunga AS turun, karena itu investor akan mengalihkan dana mereka ke beberapa negara lain yang tawarkan bunga tambah tinggi, bisa saja terhitung Indonesia juga.







