Memang situasi ekonomi yang sekarang ini terasa cukup sulit, memaksa beberapa negara termasuk Aussie dan New Zealand mulai menghentikan kebijakan kenaikan suku bunga yang sudah berlangsung sejak tahun lalu. Ini sengaja dilakukan jelas saja demi bisa membantu dalam memperbaiki perkenomian negara yang sebelumnya terasa sangat sulit.
Jadi bank sentral kedua negara tersebut sudah membuat keputusan bulat yakni untuk tidak lagi mengubah bunga dalam pengumumannya yang dikeluarkannya pekan ini. Tentunya dampak yang muncul dari kebijakan ini adalah AUD/USD dan NZD/USD tertekan pada level paling rendah sejak bulan November 2022, termasuk dampaknya bagi Aussie.
RBA (Reserve Bank of Australia) sudah mengadakan pertemuan kebijakan reguler pertama di bawah pimpinan barunya, Michele Bullock tepatnya pada Selasa, 3 Oktober. Didalam pertemuan ini RBA mengeluarkan kebijakan bulat yakni akan mempertahankan suku bunga 4.1%. Bahkan RBA tidak lupa juga untuk tetap mengekspresikan bias hawkish. Namun, para pakar tak lagi memperhitungkan kenaikan bunga lanjutan yang dapat mempengaruhi Aussie.
Sedangkan Bullock menekankan kesiapan untuk menaikkan suku bunga lagi jika saja dibutuhkan demi bisa membantu dalam mencapai target inflasi pada jangka waktu yang ditentukan. Bahkan ia menambahkan “Dewan akan terus memperhatikan perkembangan dalam perekonomian global, tren pengeluaran rumah tangga, serta prospek inflasi dan pasar tenaga kerja” tentunya dalam pengambilan kebijakan mendatang.
Anneke Thompson, kepala ekonomi CreditWatch mengatakan jika saja keputusan RBA disebabkan karena adanya pengaruh kelemahan berkelanjutan dalam perdagangan dan kepercayaan konsumen. Dirinya tentu selalu mengingatkan jika lowongan kerja terus mengalami penurunan dan dapat menyebabkan tingkat pengangguran Australia meningkat dalam beberapa bulan mendatang.






