Euro kembali tertekan di pasar valuta asing pada pekan pertama Oktober 2025, setelah mata uang tunggal Eropa itu turun ke US$ 1,167 pada hari Selasa, level terlemah sejak 25 September. Penurunan ini memperlihatkan kombinasi tekanan politik di kawasan zona Eropa, terutama dari Prancis, serta penguatan dolar AS yang masih mendominasi pasar global.
Menurut data dari TradingEconomics dan Investing.com, pasangan EUR/USD sempat merosot hingga 0,5% dalam perdagangan harian, menyentuh titik terendah bulanan sebelum akhirnya sedikit pulih di atas 1,168. Pergerakan ini menegaskan bahwa euro masih berada dalam tren lemah yang didorong oleh ketidakpastian politik dan sentimen pasar global yang berhati-hati.
Krisis Politik Prancis Menekan Pasar Eropa
Salah satu penyebab utama pelemahan ini adalah krisis politik yang mengguncang Prancis. Pengunduran diri mendadak Perdana Menteri Sébastien Lecornu hanya beberapa minggu setelah pembentukannya membuat pasar terkejut dan mengguncang kepercayaan investor terhadap stabilitas politik negara tersebut.
Kondisi ini menyebabkan spread obligasi Prancis terhadap Jerman melebar, menandakan meningkatnya premi risiko. Investor institusional mulai mengalihkan dana dari aset Eropa ke dolar AS dan yen Jepang yang dianggap lebih aman. Menurut laporan Reuters, saham-saham utama di bursa Paris turun tajam, sementara indeks CAC 40 mengalami penurunan terbesar dalam tiga bulan terakhir.
Ketidakpastian politik di Prancis juga menimbulkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas fiskal zona Eropa. Dengan risiko yang meningkat di negara besar seperti Prancis, tekanan terhadap euro menjadi semakin nyata.
Dolar AS Tetap Kuat, Didukung Data Ekonomi Positif
Selain faktor internal, penguatan dolar AS juga berperan besar dalam menekan euro. Data ekonomi AS menunjukkan ketahanan di sektor tenaga kerja dan manufaktur, yang memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan terlalu cepat memangkas suku bunga.
Kondisi ini membuat imbal hasil obligasi AS tetap tinggi, sehingga menarik aliran modal dari luar negeri dan memperkuat posisi dolar. Di sisi lain, ECB masih bersikap hati-hati dan belum memberikan sinyal pasti mengenai arah kebijakan berikutnya, membuat euro tertinggal secara relatif terhadap greenback.
Menurut laporan FXStreet, tekanan jual terhadap euro semakin kuat pada Selasa sore ketika dolar kembali menguat di sesi AS, mendorong EUR/USD mendekati support psikologis di 1,1650.
Kebijakan Moneter ECB Masih Cenderung Hati-Hati
Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde, dalam pernyataannya pekan lalu menegaskan bahwa risiko inflasi zona Eropa “masih terkendali”. Ia menilai bahwa kenaikan harga yang terjadi bersifat sementara dan tidak memerlukan pengetatan kebijakan moneter tambahan dalam waktu dekat.
Sikap hati-hati ini membuat pasar menilai bahwa ECB akan cenderung mempertahankan suku bunga saat ini lebih lama, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik kawasan.
Namun, keputusan untuk memperpanjang jalur swap likuiditas dengan Bank Sentral Tiongkok senilai €45 miliar dianggap sebagai langkah antisipatif dalam menjaga kestabilan pasar keuangan Eropa. Kebijakan tersebut memperkuat cadangan likuiditas, tetapi tidak cukup untuk menahan tekanan jangka pendek terhadap nilai euro.
Kondisi Pasar dan Level Teknis
Pada perdagangan terbaru, EUR/USD bergerak di kisaran 1,1654 – 1,1717, memperlihatkan volatilitas tinggi menjelang rilis data inflasi zona euro berikutnya. Analis teknikal menilai bahwa level 1,1650 kini menjadi support penting, dan jika ditembus, euro berpotensi turun lebih jauh menuju 1,1610.
Sebaliknya, area 1,1725 – 1,1750 menjadi zona resistensi utama yang perlu ditembus untuk membuka peluang rebound jangka pendek. Indikator RSI di grafik harian menunjukkan kondisi mendekati oversold, yang berarti peluang koreksi teknikal masih terbuka jika ada katalis positif, seperti data inflasi yang lebih baik atau stabilisasi politik di Prancis.
Dampak terhadap Ekonomi Zona Eropa
Pelemahan euro memiliki dua sisi bagi ekonomi kawasan:
- Sisi negatifnya, pelemahan ini meningkatkan biaya impor, terutama energi dan bahan baku, yang dapat menekan daya beli konsumen.
- Namun di sisi positif, ekspor Eropa menjadi lebih kompetitif di pasar global karena harga produk Eropa menjadi relatif lebih murah dalam mata uang asing.
Meskipun demikian, jika ketidakpastian politik berlarut-larut, efek negatifnya bisa lebih dominan karena investor asing cenderung menghindari aset berdenominasi euro.
Kesimpulan
Euro turun ke US$ 1,167 pada hari Selasa, mencatat titik terlemah sejak 25 September 2025, di tengah ketidakpastian politik di Prancis dan kuatnya dolar AS. Sentimen pasar yang rapuh, sikap hati-hati ECB, serta arus modal yang keluar dari Eropa memperburuk tekanan pada mata uang tunggal ini.
Selama belum ada sinyal stabilisasi politik dan arah kebijakan moneter yang lebih jelas dari ECB, euro kemungkinan akan tetap berada di bawah tekanan. Namun jika kondisi Prancis membaik dan dolar mulai kehilangan momentumnya, potensi pemulihan teknikal menuju area 1,1750–1,1800 masih terbuka.
Sumber:
- Reuters — “French markets tumble after PM Lecornu resigns” (6 Oktober 2025).
- The Guardian — “Euro and Paris stocks slide amid French political turmoil” (6 Oktober 2025).
- FXStreet — “EUR/USD extends losses toward 1.1650 as dollar strength continues” (Oktober 2025).
- TradingEconomics — “Euro Exchange Rate Data and Market Analysis” (Oktober 2025).
- European Central Bank — Press Conference Remarks by Christine Lagarde (30 September 2025).







