Pasangan USD/JPY tiba-tiba tersuruk ke rata-rata 109.80 pada awal session Asia ini hari 13/2. Aussie terjerumus seputar 0.2 % versi Greenback, walau sebenarnya tempo hari sempat kuat cepat.
Penyebab ke-2 gerakan itu ialah berita jika jumlahnya masalah virus Corona COVID-19 baru melompat dengan mendadak di propinsi Hubei, China.
Walau sebenarnya, data awal minggu sempat memperlihatkan perkembangan masalah mulai melambat.
Barusan pagi, propinsi Hubei memberikan laporan terdapatnya 14,840 masalah COVID-19 per 12 Februari 2020, naik dari 1,638 di hari Selasa.
Jumlahnya korban meninggal tiba-tiba makin bertambah sekitar 242 jadi 1,310 jiwa.
Menurut Komisi Kesehatan Hubei, mereka mulai mempertimbangkan beberapa kasus yang sukses didiagnosa dengan cara baru.
Berita itu langsung melejitkan ketertarikan beli aset-aset safe haven di pasar keuangan global.
Hal tersebut membuat penguatan Yen Jepang, sesaat saham serta Dolar Australia melemah sebab dipandang seperti proxy China.
Ketika Anda melihat beberapa angka semacam ini, Anda tidak dapat melakukan perbuatan apa-apa tidak hanya beralih ke trading risk-off, yang berarti beli Yen serta jual saham, kata Ayako Sera.
Apabila faksi berkuasa bisa menjelaskannya, kondisi dapat berkurang, tapi saya memprediksi tindakan penghindaran efek untuk terus bersambung.
Mata uang lain yang terpengaruh oleh gejolak ini ialah Dolar New Zealand.
Kiwi sempat melejit sampai 1.25 % karena perkembangan outlook kebijaksanaan suku bunga yang dipublikasikan oleh bank sentralnya.
Namun, pagi hari ini tempatnya terkoreksi kembali sampai lebih dari 0.25 % ke rata-rata 0.6450-an.
DXY relatif konstan pada rata-rata 99.00, terutamanya sebab harapan efek wabah virus Corona di Amerika Serikat cukup moderat.
Beberapa petinggi bank sentra AS Federal Reserve mengklaim jika dampak wabah pada perekonomian tidak relevan.
Ketua Fed Jerome Powell berkesan tidak pedulikan kekuatan efek wabah pada kebijaksanaan bank sentra dalam periode pendek. Walau begitu, dia memeringatkan besarnya kekuatan efek wabah pada perekonomian global.
Kami terus memonitor munculnya virus Corona dengan jeli, yang bisa menyebabkan disrupsi di China serta menebar ke semua perekonomian global, kata Powell.






