Muncul perlawanan dari beberapa pesaing dolar AS mulai yang semakin terlihat pada perdagangan forex di minggu kemarin (13-17 Agustus). Memulai perdagangan minggu kemarin, dolar AS masih tetap didorong dari momentum bullish yang berlangsung di minggu awal mulanya waktu krisis lira, mata uang Turki, makin jadi.
Semakin mlmahnya mata uang Turki jadi beban besar buat euro walau Turki bukan sisi dari Uni Eropa ataupun zone euro. Jalinan dagang serta perbankan pada Eropa dengan Turki diindikasikan bisa jadi jembatan buat penyebaran krisis keuangan yang terjadi Turki ke Benua Biru hingga euro juga set belur ditabrak dolar AS.
Laporan MetaTrader yang dipakai team FS88 Research Division yang berhasil mencatatkan pada minggu kemarin dari pasangan EURUSD yang justru tergelincir ke $1,1301, posisi paling rendah sejak dari tanggal 28 Juni 2017, sebelum rebound di selama periode Kamis dan hari Jumat.
Pada pound sterling yang masih dibayang-bayangi situais no-deal Brexit atau akan hengkangnya Inggris dari wilayah Uni Eropa tanpa persetujuan yang berarti, dolar AS selalu menguat hingga pasangan GBPUSD melemah ke $1,2662, posisi paling rendah dari tangga 22 Juni 2017.
Asset safe haven seperti yen masih tetap bertahan pada dolar AS yang suatu mata uang safe haven. Akan tetapi pamor yen masih tidak dapat menyaingi kedahsyatan dolar AS hingga yen cuma sudah sempat yang membawa dolar AS ke ¥110,09 di minggu kemarin sebelum berbalik menguat serta pada akhirnya pasangan USDJPY sesi penutupan positif di ¥110,60.
Safe haven yang lain yakni emas terlihat yang sangat menanggung derita malah pada saat gejolak ekonomi serta politik yang saat ini berjalan di Turki.






