Konflik dagang di antara Amerika Serikat-China sudah berjalan kira-kira satu tahun lamanya. Analis memandang, keadaan ini sudah menjelma jadi perang mata uang.
Memperingatkan saja, yuan sudah terdepresiasi melebihi posisi 7 per dollar pada minggu lalu untuk pertama kali semenjak kritis finansial global 2008.
Keadaan ini yang selanjutnya menyebabkan Kemenkeu AS mengklaim China jadi manipulator mata uang. Pada saat laporan terbaru.
BofA Merrill Lynch Global Research meramalkan apa yang akan berlangsung terhadap yuan menggunakan tiga skenario seperti yang diambil dari CNBC.
Skenario 1: yuan turun 10%
BofA Merrill Lynch lihat, import China dari AS cuma sepertiga dari import Amerika dari China. Ini berarti, China tidak dapat menandingi pajak import AS dalam soal jumlah.
Meskipun begitu, satu hal yang Beijing bisa kerjakan ialah mendevaluasi yuan sebesar 10%. Ini dapat menganulir efek dari kenaikan pajak import beberapa barang China sebesar 10%.
Skenario 2: Yuan Stagnan
Bila berlangsung kebuntuan, nilai yuan akan bergerak flat, karena hanya Beijing akan capek sudah membuah AS geram dengan pelemahan yuan atau timbulnya rintangan baru yaitu hadapi beberapa exportir dengan membuat yuan kuat, kata bank investasi itu.
Skenario 3: Yuan Terapresiasi
Dalam kondisi ini, nilai yuan akan kuat walau hanya terbatas. Ini sebab tiap persetujuan yang berlangsung akan mencakup stipulasi yang akan batasi ruangan buat pelemahan yuan yang akan datang.
Bila Beijing merasakan pelemahan yuan hanya terbatas, Beijing akan batasi penguatan yuan, terutamanya bila tiap animo RMB akan susah dibalikkan dengan politis.
Selain itu, Jameel Ahmad, global head of currency strategy and market research FXTM memandang, anjloknya nilai ganti yuan akan ikut memengaruhi pelemahan mata uang lain di lokasi regional, terhitung rupe India, dollar Singapura, won Korea, ringgit Malaysia, serta rupiah Indonesia.
Ditengah-tengah perang dagang, won Korea kelihatannya bisa menjadi faksi yang alami kekalahan paling besar.
Menurut analis BofA Merrill Lynch, perdagangan Korea Selatan benar-benar bergantung pada China serta AS.
Karena, negara ini jadi rantai supply di antara ke-2 negara. Di lain sisi, won terpukul sentimen konflik dengan Jepang, yang selanjutnya berefek pada jalinan perdagangan di antara kedua-duanya.
BofA Merrill Lynch menulis, mengenai mata uang yang paling mempunyai ketahanan tertinggi antara mata uang emerging market ialah baht Thailand.






