Theresa May mengingatkan beberapa anggota parlemen jika kegagalan lewat Brexit bisa menjadi musibah buat demokrasi.
Dia mengemukakan hal tersebut untuk memperoleh suport mendekati pengambilan suara di parlemen yang diprediksikan akan menampik persetujuan yang sudah ia bikin dengan Uni Eropa.
Mendekati tenggat waktu mundurnya Inggris dari UE pada 29 Maret yang akan datang, negara itu melawan jalan yang begitu tidak tentu yang punya potensi membawanya ke proses Brexit tiada persetujuan atau bahkan juga masih ada dalam blok mata uang euro itu.
May yang dengan tidak diduga tunda pengambilan suara di parlemen Desember lantas sesudah memprediksi dianya akan kalah, menjelaskan beberapa anggota parlemen tidak bisa menyedihkan beberapa pemilih yang memberi dukungan Brexit dalam referendum Juni 2016 kemarin.
Lakukan hal itu bisa menjadi musibah serta adalah pelanggaran yang tidak termaafkan atas keyakinan pada demokrasi kita, dikutip dari Reuters.
Pesan saya pada Parlemen akhir minggu ini simpel: ini waktunya untuk melupakan permainan serta mulai lakukan perihal yang benar buat negara kita.
May selama ini menampik untuk mundur dari kesepakatannya yang tidak popular itu. Perancangan kesepakatan Brexit Inggris dengan UE, diantaranya, mengutamakan jalinan dagang yang masih dekat dengan blok itu.
Dari tim oposisi, pemimpin Partai Buruh Jeremy Corbyn menjelaskan tinggalkan UE tiada persetujuan bisa menjadi musibah serta partainya akan lakukan semua yang dia dapat untuk menahan hasil itu.
Akan tetapi, prioritas Corbyn ialah untuk memaksa dikerjakannya penentuan umum serta menjelaskan dia akan ajukan mosi tidak yakin pada pemerintah dengan selekasnya jika May kalah dalam pengambilan suara hari Selasa yang akan datang.






