Poundsterling kembali melemah 0.25 % ke posisi 1.3137 pada Dolar AS, bersamaan dengan kurangnya perkembangan baru dalam perundingan berkaitan brexit pada Uni Eropa serta Inggris.
Satu hasil survey Reuters paling baru tingkatkan ketegangan aktor pasar, sebab mengatakan jika GBP/USD dapat anjlok sampai seputar 9 % dari nilainya sekarang ini serta diperjualbelikan pada level 1.2000, jika Inggris keluar dari Uni Eropa tiada satu persetujuan spesifik No Deal Brexit.
No-Deal Brexit sudah disebutkan menjadi skenario terburuk yang dapat berlangsung dalam gagasan Inggris untuk bercerai dengan Uni Eropa.
Beberapa responden dalam survey Reuters juga mengamini dampak jelek peluang itu pada kurs Poundsterling. Akan tetapi, mereka pun memandang jika probabilitas peluang terjadinya No-Deal Brexit lumayan kecil.
Sebagian besar responden memprediksi jika kedua pihak selanjutnya akan menyetujui satu persetujuan dagang spesifik. Jika itu berlangsung, jadi Poundsterling diprediksikan akan ada di posisi 1.3200 pada Dolar AS di akhir Maret 2019, sesudah Inggris sah keluar dari Uni Eropa.
Setelah itu, Pounds peluang akan kuat jadi 1.3500 dalam enam bulan serta sampai posisi 1.3900 dalam tempo satu tahun lalu.
Dibanding skenario itu, probabilitas No Deal Brexit cuma 15 % saja. Akan tetapi bila betul-betul berlangsung, jadi No-Deal Brexit bisa menyebabkan Sterling ambrol. Salah satunya responden bahkan juga memprediksi jika Sterling dapat sampai paritas pada Dolar AS.
Responden yang sangat optimistis memprediksi jika No-Deal Brexit akan menyebabkan Sterling jatuh ke 1.2800. Sebuah brexit tiada persetujuan spesifik -bagi kami, itu skenario yang tidak mungkin terjadi- dapat menggerakkan Cable ke arah siklus rendah seputar $1.18-$1.20, kata Roberto Cobo Garcia dari BBVA, pada Reuters.
Tempat bank sentra Amerika Serikat sekarang ini yang hentikan kenaikan suku bunga untuk sesaat, dapat menyokong Poundsterling sebab bank sentra Inggris diekspektasikan akan meningkatkan suku bunga dalam tahun ini.
Akan tetapi, beda suku bunga peluang takkan dapat mengangkat Sterling dengan berkepanjangan, terutamanya dalam pair-pair cross.
Selain itu, beberapa pihak pun cemas jika skenario No Deal Brexit bisa berefek juga buat beberapa negara Uni Eropa yang terkait dagang erat dengan Inggris. Akan tetapi, taraf efeknya belumlah terarah sampai sekarang ini.






