Dari situasi pemeringkat credit dunia, S&P Global sudah merubah daftar negara-negara yang paling terserang akibat negatif dari kondisi kenaikan suku bunga yang sedang ramai belakangan ini.
Ikuti kebijakan moneter dari ultra yang semakin longgar atau berada di super-loosse monetary policy dari sejak peristiwa krisis keuangan global, sejumlah bank sentral dunia mulai kembalikan program pelonggaran kuantitatifnya serta bahkan juga mulai menambah suku bunganya lagi.
Saat ini S&P Global tunjukkan kalau Turki, Argentina, Pakistan, Mesir serta Qatar, yaitu negara-negara yang paling rentan serta adalah negara bersama dengan ekonomi pasar yang tengah berkembang yang paling banyak ditata dengan kebijakan baru dari berbagai negara maju.
Keadaan moneter yang paling akomodatif untuk sebagian pasar terlebih pasar yang ekonominya maju yaitu mengaplikasikan kebijakan pengetatan atau menambah suku bunganya, sekian ungkap Moritz Kraemer, keterangan dari managing director S&P Global.
Kraemer juga mengungkap kalau lingkungan atau instansi pendanaan dunia juga telah memahami dengan keadaan suku bunga yang semakin tinggi.
Kraemer juga menyebutkan kalau pengetatan moneter saat ini lebih nyata dari mulanya. The Fed sudah mulai menambah suku bunganya serta Bank of England/BoE juga ambil langkah yang sama minggu kemarin untuk pertama kalinya mulai sejak 2007.
Sedang bank sentral Uni Eropa, Sedangkan ECB sudah menginformasikan penurunan pembelian asetnya kembali mulai tahun depan serta peluang besar akan mulai menambah suku bunganya.
Sedangkan kebijakan moneter yang ketat atau suku bunga yang semakin tinggi, seperti kita kenali menyebabkan resiko untuk ekonomi negara yang tengah berkembang dalam beragam bagian, kesalahnya ialah tingkatkan biayah utang untuk negara-negara ini disebabkan hutang itu yang menggunakan dolar AS, hingga juga akan ikut tingkatkan biaya bunga credit hutang.
Di bagian yang lain bila The Fed menambah suku bunganya, bermakna investor asal AS juga akan menuangkan investasinya untuk kembali lagi ke negara aslinya untuk memperoleh imbal hasil yang semakin bagus serta negara berkembang juga akan kehilangan pemodalnya.






