Mata uang Safe Haven, yakni Yen, Franc, serta Dolar AS, jadi target investor di dalam aksi jual yang terjadi pasar saham dunia pada saat perdagangan hari Kamis 25/Oktober.
Meskipun begitu, volatilitas relatif tipis, memberikan indikasi jika aktor pasar tidak betul-betul cemas. Pasangan USD/JPY mengmengalami penurunan sampai rata-rata 111.820, walau sekarang sudah bergerak kembali pada Posisi 112.276 waktu berita ditulis dalam pertengahan sesi Eropa.
Selain itu, pasangan USD/CHF bergerak naik 0.16 % ke posisi 0.9993; paling tinggi dari sejak bulan Agustus. Menjadi beberapa mata uang dengan bersuku bunga negatif, Yen serta Franc tidak tawarkan imbal hasil dan menarik buat investor seperti mata uang dengan suku bunga tinggi diantaranya Dolar AS serta Dolar Komoditas.
Akan tetapi, semakin tingginya kepercayan terhadap kestabilan finansial Jepang serta Swiss seringkali jadi fakta buat investor untuk mengubah dana-dana mereka untuk sesaat di saat berlangsung gejolak serta penambahan ketidakpastian.
Dalam perdagangan hari Rabu kemarin, saham-saham AS tergelincir secara bersamaan. Indeks S&P500 mengalami penurunan enam hari berturut-turut serta mencatat penurunan 3.09 % ke posisi 2656.10 pada sesi perdagangan intraday.
Indeks Nasdaq hari ini tergelincir 4.43 % ke posisi 7108.4, serta Dow Jones turun 2.41 % ke 24583.4. kondisi tidak stabil itu disusul juga semakin meningkatnya Nikkei 225 yang roboh 3.72 % ke 21268.7 pada sesi pembukan dalam perdagangan Asia pagi.
Masalahnya proyeksi-proyeksi paling baru dari beberapa ahli mengusung kembali permasalahan akibat pengenaan bea import serta semakin menurunnya ekonomi Tiongkok pada penghasilan sejumlah perusahaan multinasional AS.
Untuk saat ini semua telah terkumpul, rapuhnya makroekonomi serta beberapa risiko politik, tutur Christin Tuxen, ahli taktik di Danske Bank.
Akan tetapi, dia mengutarakan juga jika gerakan yang relatif moderat dalam perdagangan ini hari mencerminkan jika data-data terbaru cuma tunjukkan hilangnya momen perkembangan global, serta bukannya resiko krisis atau perihal sama yang sangat serius.
Di lain sisi, aktor pasar masih tetap memonitor tanda-tanda krisis politik di benua Eropa, sesudah European Commission menuntut Italia membuat revisi RAPBN-nya dalam tempo tiga minggu.
Rapat bank sentra Eropa ECB hari ini pula jadi sorotan. Walau ECB diekspektasikan mengukuhkan gagasan normalisasi kebijaksanaan akhir tahun ini, tapi Gubernur Mario Draghi di kuatirkan akan mengemukakan pesan dovish karena beberapa berita negatif di benua biru.






