Sesuai keterangan dari Jerome Powell, untuk kenaikan suku bdari unga The Fed peluang akan tidak membawa resiko sebesar yang perlu dikhawatirkan pasar dalam keadaan finansial global dari berbagai negara-negara yang sedang berkembang.
Tetapi, dia juga menyatakan kalau resiko sentimen bearish global terus akan dipantau, sesuai dengan sistem untuk kenaikan suku bunga referensi dengan bertahap yang sedang digerakkan dari The Fed. ” Saya tidak menyingkirkan prospek terkait resiko untuk normalisasi kebijakan global, ” tegas Powell.
Bahkan Powell juga memberikan paradigmanya terkait kondsi saat ini, akibat semakin naiknya suku bunga The Fed tidak menutup kemungkinan semakin besarnya aliran modal masuk dan yang akan meninggalkannya dari berbagai negara berkembang.
Akan tetapi masalah yang utama ialah sejumla investor dan berbagai lembaga yang kurang siap melihat perubahan ekonmi saat ini, selain itu terkait pertumbuhan ekonomi global dibarengi dengan laoran dari harga komoditas yang semakin terus bergerak naik.
Namun itu sebenarnya memiliki peran yang sangat penting untuk memberikan nafas panjang untuk negara berkembang agar cepat pulih kondisi perekonomiannya. Hal seperti ini masih belum seberapa besar resikonya dibandingkan dnegan kebijkan moneter yang akan diambil dari satu Bank sentral saja.
Meski demikian, untuk melindungi kestabilan finansial serta perkembangan global yang dikhawatirkan akan semakin tidka stabil terkait kenaikan suku bunga AS, The Fed juga teelah menyebutkan akan ikut menolong pembangunan kekuatan dalam system finansial. The Fed akan mengomunikasikan terkait kebijakan, yang akan lebih jelas dan setransparan, hal itu dilakukan untuk memberikan keselarasan harapan serta untuk menghindari masalah pasar.
Sesuai yang ada dalam pidatonya itu, Powell tidak menyinggung problem terkait penguatan Dolar AS dalam beberapa pekan ini ini. Walau sebenarnya, sejumlah mata uangdari negara berkembang saat ini sedang jatuh secara drastis dan berguguran diakibatkan dari semakin meeningkatnya Dolar AS.
Bahkan dari Argentina juga sangat terpaksa menambah suku bunganya hingga mencapai 40 %, sedangkan untuk nilai tukar dari Rupiah telah mencapai angka Rp14, 000 terhadapa dolar AS.







