Beranda Analisa Forex Pound Rebound, Data PMI dan Laporan Retail Sales Membaik

Pound Rebound, Data PMI dan Laporan Retail Sales Membaik

500
0

Hasil rilis data preliminer Markit yang mengkonfirmasi bertambahnya skor Purchasing Managers Index buat sektor manufaktur dari posisi 50.0 ke posisi 51.9 dalam bulan Februari 2020.

Hasil tersebut menyeberangi ambang antara wilayah kontraksi dan ekspansi secara resmi.

Skor PMI Jasa terkoreksi dari 53.9 ke 53.3, tetapi hal ini dinilai kurang signifikan. Lebih penting lagi, skor PMI komposit kokoh dalam posisi 53.3, bukannya menurun ke 52.8 misalnya dugaan pasar sebelumnya.

Kesimpulan akhir secara holistik mengonfirmasi bahwa membaiknya aktivitas ekonomi Inggris pasca pemilu yang terus berlanjut.

Dengan demikian, data mendukung BoE yang tidak mengubah suku bunga dalam akhir bulan Januari. Bahkan prospek pemangkasan suku bunga BoE tahun ini pun semakin terkikis.

Namun demikian, naiknya Pound seusai rilis data ini masih dikhawatirkan hanya akan berlangsung sementara saja.

Pasalnya, ketidakpastian lain dari isu perundingan Inggris-Uni Eropa masih terus diwaspadai oleh pelaku pasar.

Perundingan baru yang akan dimulai bulan depan, namun ke 2 kubu dikabarkan sedang menyiapkan sejumlah penawaran  saling berlawanan.

Satu-satunya harapan rebound bagi Pound saat ini adalah apabila timbul komentar bernada kompromi menurut salah satu pihak  berseteru.

Pemangkasan suku bunga kemungkinan takkan diperhitungkan buat ad interim saat, dikarenakan data ekonomi  sangat menjanjikan dari Inggris.

Namun perundingan perdagangan yang akan datang bisa meredam sentimen, Pound tetap undervalued secara fundamental, kata Marc-André Fongern, Head of FX Research at Fongern Global Forex.

Laporan Retail Sales Membaik

Penyang jugalan ritel Inggris dalam bulan Januari 2020 mengalami kenaikan 0.9 persen MoM.

Kinerja ritel melampaui perkiraan yang dipatok pada 0.7 persen saja, sekaligus konsisten menggunakan data ekonomi brilian yang dirilis Inggris belakangan ini.

Hasil pemilu Desember 2019 yang memenangkan PM Boris Johnson, diperkirakan mendukung lebih poly konsumen merasa lega dan termotivasi buat membelanjakan pundi-pundi mereka di tengah kepastian realisasi brexit dalam akhir Januari lalu.

Meski demikian, data penyang jugalan ritel yang positif itu diabaikan  Poundsterling. Posisi Sterling semakin tertekan lawan Dolar AS dan Euro, meski masih lebih unggul terhadap Yen Jepang yang sedang dibanjiri sentimen negatif.

Sumber kekhawatiran para trader Sterling waktu ini berpusat dalam negosiasi dagang pasca brexit antara Inggris dan Uni Eropa yang akan dimulai pada bulan Maret.

Pihak Inggris dan Uni Eropa dikabarkan tengah menyiapkan draft tawaran deal yang saling kontradiktif.

Negosiator Inggris, David Frost, pekan ini menegaskan bahwa pemerintah menolak buat terikat peraturan Uni Eropa pada bidang ketenagakerjaan, sosial, lingkungan, maupun fiskal.

Padahal Uni Eropa menyatakan an bahwa Inggris harus mengikuti peraturan mereka apabila menginginkan perdagangan bebas tarif dan bebas kuota antara ke 2 kawasan.

Kontradiksi itu memicu kekhawatiran pelaku pasar. Apalagi proses perundingan sebenarnya bukan setahun seperti ekspektasi sebelumnya, melainkan hanya 10 bulan sejak Maret hingga Desember.

Bahkan masa negosiasi efektif kemungkinan hanya empat bulan, dari sejak Juli sampai Oktober, lantaran dibutuhkan ketika u untuk membujuk parlemen ke 2 daerah supaya mau meratifikasi kesepakatan dagang terkait.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses