Pasangan GBP/USD sesi penutupan pada posisi 1.2454 dalam perdagangan hari Jumat 11/4, kompak dekat posisi paling tinggi satu pekan.
Kabar mengenai membaiknya keadaan kesehatan PM Inggris Boris Johnson yang terkena virus Corona, sudah menyokong sentimen pasar. Namun, outlook perekonomian Inggris dalam periode waktu lebih lama sebetulnya masih muram.
Sepanjang satu pekan lalu, Pound melemah walau ketertarikan efek pasar bertambah serta menguatkan deretan mata uang high-risk lain.
Dinamika itu karena PM Inggris Boris Johnson sangat terpaksa masuk rumah sakit dengan keadaan kesehatan turun karena terpengaruh virus Corona COVID-19.
Aktor pasar pernah cemas mengenai kestabilan politik Inggris jika berlangsung hal yang tidak diharapkan pada sang PM. Untungnya, keadaan kesehatan Johnson nampaknya telah lebih baik.
Mencuplik jubir perdana mentri, mass media Inggris memberikan laporan pada session New York jika Johnson telah dibawa keluar dari ruangan genting ICU.
Tuturnya, Pertama Menteri malam hari ini sudah dikeluarkan dari perawatan intens kembali pada bangsal, dimana dia akan terima pengamatan ketat sepanjang babak awal pemulihannya.
Lepas dari sentimen positif ini, analis memeringatkan jika outlook ekonomi Inggris yang akan datang belum menentu.
Sekarang, Inggris masih mencanangkan lockdown nasional yang menyebabkan penutupan operasional usaha serta memaksakan beberapa orang ajukan klaim tunjangan pengangguran.
Pemerintah serta bank sentra sudah menggulirkan rangsangan sejumlah miliaran pound, tapi outlook ekonomi masih jelek.
National Institute of Economic and Social Research meluncurkan hasil riset berdiri sendiri terbaru, dimana Inggris diprediksikan akan alami kontraksi ekonomi sampai 25 % pada kuartal ke-2 tahun 2020.
Momen yang dipanggil moment sekali dalam seabad ini dapat menyebabkan pengurangan perkembangan sampai 5 % pada kuartal pertama, apabila lockdown bersambung, akan turun lagi seputar 15-25 % pada kuartal ke-2.
Perekonomian Inggris saat ini hampir tentu alami kontraksi besar pada kuartal ke-2 tahun ini.
Efek keras dari COVID-19 serta lockdown global sudah menggerakkan perekonomian masuk ke kawasan yang tidak diketahui dimana kita bisa melihat GDP turun pada rekor tingkat kuartalan, tutur Kemar Whyte, seorang ekonom senior di instansi analisa itu.






