Poundsterling berjalan sideways selama pada Dolar AS serta Euro memasuki session Asia hari ini 13/12, sesudah tersebar berita jika PM Theresa May sukses lolos dari intimidasi voting yang dipengaruhi dari mosi tidak yakin atas kepemimpinannya di pemerintahan Inggris.
Pasangan GBP/USD tersebar di posisi 1.2623, sementara pasangan EUR/GBP ikut hampir tidak aktif pada posisi 0.9000 mendekati pembukaan session Eropa.
Perwakilan rakyat Inggris yang diusung dari partai Konservatif dalam pemerintahan Inggris mengadakan voting tertutup tentang apa mereka masih tetap meyakini dari kepemimpinan PM Theresa May.
Dalam rencana meyakinan kestabilan suport baginya, May menjanjikan jika dia takkan pimpin partai kembali waktu masuk pemilu selanjutnya yang peluang diselenggarakan tahun 2022.
Akhirnya, PM May memenangi 200 suport dari 317 anggota parlemen yang datang dari partai konservatif. Akan tetapi, pemberontakan yang menyertakan sepertiga lebih dari anggota partainya masih kesulitan baginya untuk menyepakati proposal Brexit yang ada di parlemen.
Tepat sesudah hasil aktual dirilis, terjadi aksi mengambil untung menguasai, tapi Sterling saat ini telah berhenti terapresiasi, tutur Masafumi Yamamoto.
Sambungnya kembali, Ini tunjukkan jika berita tentang kemenangan May itu bukan kabar buruk, tapi tidak mengakhiri permasalahan Brexit. Dalam kerangka ini, ketidakpastian bersambung.
Awal minggu ini, PM Theresa May menggagalkan voting proposal Brexit yang sedianya akan dikerjakan hari Selasa. Aksi yang menyebabkan voting berdasarkan mosi tidak yakin atas kepemimpinannya itu jadikan belumlah terdapatnya ketentuan berkaitan keputusan Inggris mundur dari Uni Eropa sampai sekarang ini.
Walau sebenarnya, Inggris diskedulkan mundur dari Uni Eropa tanggal 29 Maret 2019 yang akan datang. Hasil voting ini tunjukkan jika PM May hampir tentu tidak berhasil menggolkan proposal Brexit itu jika masih tetap berisi isi polemis seperti terdapatnya saat ini.
Beberapa ahli memproyeksikan beberapa skenario jelek berdasar pada perubahan ini, termasuk juga terjadinya No Deal Brexit serta peluang digelarnya kembali referendum ke-2 masalah keanggotaan Inggris di Uni Eropa.
Masalahnya pihak European Commission sudah mengatakan jika meskipun mereka terbuka untuk berdiskusi kembali dengan May, tapi proposal yang sudah disetujui takkan direvisi.






