PM Boris Johnson tempo hari memberitahukan jika normalisasi ekonomi Inggris paling cepat baru bisa dilaksanakan pada bulan Juli.
Dia pilih untuk menjaga lockdown untuk membendung pandemi COVID-19, sedang aktor pasar cemas perekonomian akan makin stres bersamaan dengan kurangnya kesibukan warga.
Dalam pidatonya pada Minggu 10/05/20 malam, Johnson merekomendasikan supaya beberapa orang dari bagian manufaktur serta padat karya lain yang awalnya memperoleh perintah supaya tinggal di dalam rumah, kembali lagi kerja dengan memerhatikan ketentuan limitasi fisik.
Dia buka peluang beberapa pelajar kembali pada sekolah pada 1 Juni. Beberapa langkah ini adalah lampu hijau buat lembaga di bidang khusus untuk kembali lagi melakukan aktivitas, tapi dia menolak peluang normalisasi ekonomi semakin luas dalam tempo dekat.
Usaha bagian hospitality serta ruang umum paling cepat baru bisa dibuka kembali ke tanggal 1 Juli.
Johnson mengatakan jika sekarang masih begitu awal untuk menormalisasi kesibukan ekonomi, sebab ada peluang tingkat infeksi COVID-19 akan bertambah lagi.
Oleh karenanya, faksinya pilih berlaku semakin berhati-hati. Dia meningkatkan jumlah denda buat pelanggar lockdown. Langkah pemerintah Inggris yang tambahan berhati-hati ini jadi memperburuk outlook buat perekonomian.
Juta-an perusahaan yang bergerak di bidang layanan, bagian yang berperan terbesar buat perekonomian Inggris terancam ambruk. Selain itu, rumor negosiasi perdagangan Inggris-Uni Eropa kembali lagi memercikkan ketidaktetapan.
Minggu kemarin, Komisioner Dagang Uni Eropa Phil Hogan mengemukakan pada RTE Irlandia, Lepas dari keutamaan serta besarnya rintangan negosiasi.
Saya cemas kami cuma membuat perkembangan yang benar-benar lamban dalam negosiasi Brexit. Tidak ada signal riil jika teman-teman Inggris kita dekati negosiasi ini dengan gagasan untuk sukses.
Saya anggap beberapa politikus serta pemerintah Inggris sudah putuskan jika COVID akan dituding untuk semua dampak dari Brexit serta pemahaman saya ialah mereka tidak ingin bawa negosiasi ke tahun 2021 sebab mereka dapat mempersalahkan COVID untuk segala hal dengan cara efisien.
Inggris cuma mempunyai waktu sampai tanggal 1 Juli untuk minta perpanjangan waktu buat perundingan dagang dengan Uni Eropa, tapi mereka masih bersikukuh akan akhiri perundingan dalam tahun 2020.






