Pasangan EUR/USD menurun sebesar 0.33 % ke 1.1430 sesi perdagangan Eropa ini hari 15/1, sebab berita memburuknya perkembangan ekonomi Jerman menyebabkan kecemasan aktor pasar tentang outlook Zone Euro serta prediksi suku bunga ECB. Euro pun dalam tempat lebih lemah pada Poundsterling, pasangan EUR/GBP terdaftar -0.13 % di 0.8901.
Eurostat memberikan laporan jika Neraca Perdagangan Zone Euro alami penambahan surplus dari 14 Miliar jadi 19 Miliar pada bulan November, tambah tinggi dari harapan awal yang dibanderol pada 13.7 Miliar.
Akan tetapi, data ini tidak digubris oleh aktor pasar sebab shock dari launching data GDP Jerman dalam tempo hampir bertepatan.
German Federal Statistical Office menginformasikan dalam laporannya jika laju perkembangan GDP tahun 2018 cuma 1.5 %. Walau sama dengan perkiraan awal beberapa ekonomi, tapi angka itu adalah rekor sangat buruk dalam lima tahun paling akhir.
Walau sebenarnya, menjadi sandaran ekonomi penting di lokasi Euro, Jerman jadi kiblat beberapa negara yang lain. Terjadi penambahan kecemasan berkaitan dinamika ekonomi Zone Euro.
GDP Jerman ini mengonfirmasi kecemasan itu serta sekarang kami memprediksi ECB bank sentra Eropa akan lakukan tindakan lebih waspada, kata Esther Maria Reichelt dari Commerzbank, seperti diambil oleh Reuters.
Dalam periode pendek, resiko paling besar buat Eropa serta Euro ialah proses Brexit yang tidak teratur serta berlangsung pada peristiwa terburuk buat perekonomian Jerman.
Pada bulan Desember lantas, ECB akan memutuskan untuk hentikan program pembelian obligasi, dan mengemukakan gagasannya untuk meningkatkan suku bunga dalam tahun 2019.
Meskipun begitu, berdasar pada keadaan ekonomi Zone Euro terbaru yang dijepit rumor perang dagang dan ketidakpastian Brexit, banyak analis mengekspektasikan ECB baru akan meningkatkan suku bunga di akhir tahun 2020.
Selain itu, mendekati voting persetujuan Brexit yang akan diselenggarakan di Parlemen Inggris ini hari, Poundsterling dibelit ketidakpastian. Mufakat memprediksi jika PM Theresa May akan kalah dalam voting itu, dengan konsekuensi ditolaknya persetujuan Brexit yang sudah terwujud dalam perundingannya dengan Uni Eropa.
Akan tetapi, ada simpang-siur berkaitan konsekuensi dari penolakan itu. Beberapa analis memproyeksikan Pounds akan langsung turun sesudah PM May kalah. Akan tetapi, beberapa yang lain meramalkan Pounds masih tetap dapat kuat bila Parlemen menyepakati mengajukan penundaan deadline Brexit dari Maret jadi Juli.






