Meskipun berlibur masih tetap mengamati perdagangan pasar keuangan memasuk liburan Natal kemarin. Walau reli Dolar AS ketahan oleh rumor politik di Washington, akan tapi beberapa mata uang Asia ikut lesu.
Jakarta Interbank Spot Dollar Rate jua tunjukkan semakin menurun Rp14,480 jadi Rp14,602, sedangkan untuk kurs USD/IDR saat berada di pasar spot mata uang bergerak naik 0.14 % ke posisi Rp14,580.
Sesuai dengan data catatan year to date yang diatur Reuters saat session Asia barusan pagi, sebagian besar mata uang Asia alami melemah pada tahun 2018.
Dolar Singapura turun 2.54 %, Dolar Taiwan turun 3.09 %, sedang Won Korea anjlok 4.95 %. Pelemahan paling besar dihadapi dari Rupee India yang turun 8.93 %, Rupiah yang anjlok 7.09 %, Peso Filipina sebesar 5.79 %, serta Yuan China sekitar 5.50 %.
Di antara sepuluh mata uang yang disurvei, cuma Yen Jepang serta Baht Thailand yang sukses kuat lawan Dolar AS. Data-data ini memvisualisasikan begitu jelek imbas naiknya suku bunga Amerika Serikat pada nilai ganti mata uang beberapa negara berkembang.
Prediksi nilai ganti mata uang Asia tahun 2019 masih suram, sebab perseteruan perdagangan AS-China peluang menyeret beberapa negara berkembang yang begitu peka pada minat resiko pasar. Akan tetapi, banyak pihak sekarang menanyakan kemampuan Dolar AS.
Minggu kemarin, Federal Reserve sebagai bank sentra AS meningkatkan suku bunga untuk ke empat kalinya dalam tahun 2018, dan mengutarakan gagasan untuk meningkatkan suku bunga sekitar 2x kembali pada tahun 2019.
Prospek itu lebih pesimis dibanding outlook awal mulanya yang memprediksi kenaikan suku bunga sekitar 3x pada tahun 2019. Meskipun begitu, pengumuman itu menyebabkan kemurkaan Presiden AS Donald Trump.
Di hari Senin, Trump kirim cuitan di account Twitter-nya yang berisi dakwaan atas Fed menjadi masalah satu-satunya buat perekonomian AS.
Perihal ini memancing kecemasan di kelompok aktor pasar kalau-kalau Trump akan mengintervensi kebijaksanaan bank sentra, atau demikian sebaliknya, Fed ikuti instruksi Trump untuk berhenti meningkatkan suku bunga.
Selain itu, penutupan beberapa instansi federal AS karena Government Shutdown yang berjalan semenjak akhir minggu kemarin ikut membuat investor semakin cemas tentang outlook perkembangan AS.
Senat AS belumlah dapat sampai persetujuan untuk keluar dari kebuntuan masalah gagasan aturan buat pembangunan tembok perbatasan AS-Meksiko. Seseorang petinggi senior bahkan juga mengatakan jika shutdown dapat bersambung sampai tahun kedepan.






