Laporan nilai tukar resmi dari JISDOR tergelincir dari posisi Rp14,016 jadi Rp14,056 dalam perdagangan hari Senin 22/4.
Selain itu, kurs USD/IDR dalam perdagangan spot mata uang melejit 0.21 % ke posisi Rp14,070, serta bahkan juga sudah sempat sampai posisi paling tinggi pada Rp14,095. Kondisi ini disebabkan oleh memudarnya euforia selesai pemilu serta beredarnya berita jelek dari mancanegara.
Pelemahan pada Dolar AS dihadapi serentak oleh mata uang Asia yang lain, termasuk juga Yen China, Dolar Hong Kong, Dolar Singapura, Rupee India, Yen Jepang, serta Won Korea.
Penurunan terparah di antara mata uang Asia terkena oleh Peso Filipina, dibarengi beruntun oleh Won Korea, Rupee India, dan Rupiah Indonesia.
Selesai pemilu pada tanggal 17 April 2019 kemarin, kurs Rupiah sudah sempat kuat pada Dolar AS sampai sampai posisi Rp14,000. Tetapi, hasil quick count yang memenangi pasangan Joko Widodo dan Ma’ruf Amin dipandang sesuai dengan harapan pasar, hingga dampaknya tidak begitu besar.
Bahkan juga, mulai awal minggu ini, kurs Rupiah kembali terimbas oleh permasalahan external. Seperti diambil oleh Republika, Direktur Penting PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengutarakan jika sentimen positif yang dibawa oleh Jokowi Effect pasca-pemilu telah mulai menghilang.
Selanjutnya, dia memandang kurangnya sentimen domestik menyebabkan kurs Rupiah kembali diombang-ambingkan oleh penguatan Dolar AS di Asia.
Satu diantara berita terburuk buat kurs Rupiah ini hari terkait dengan gagasan Amerika Serikat untuk menegaskan pemberlakukan sangsi pada Iran. Sikap AS itu menyebabkan harga minyak mentah global melompat mencolok sampai hampir 3 % dalam perdagangan ini hari.
Walau sebenarnya, Indonesia menjadi importir netto minyak dapat menanggung derita pembengkakan defisit jika harga minyak sedang mengalami kenaikan.
Searah dengan memburuknya sentimen pasar serta ketertarikan investor, indeks harga saham kombinasi IHSG pun terjun ke zone merah. Di akhir penutupan perdagangan ini hari, IHSG mencatat penurunan 1.42 % ke angka 6,414.74, posisi terendahnya semenjak awal minggu kemarin.
Semua bidang saham terkoreksi, dengan penurunan paling besar dihadapi oleh bidang Bermacam Industri, bidang Barang Mengkonsumsi, serta bidang Industri Basic.






