Nilai tukar poundsterling Inggris turun lebih dari 1.5% pada session perdagangan Selasa 17/12/19 tempo hari, makin menjauhi posisi paling tinggi 19 bulan.
Perdana Menteri PM Inggris Boris Johnson yang membuat poundsterling melejit ke posisi paling tinggi 19 bulan, dia juga yang membuat poundsterling turun kesempatan ini.
Turunnya poundsterling dipacu oleh gagasan PM Jonhson yang akan membuat revisi undang-undang keluarnya Inggris dari Uni Eropa Withdrawal Agreement Bill.
Media local mewartakan PM Johnson akan merivisi undang-undang itu yang menghambat diperpanjangnya waktu peralihan keluarnya Inggris dari Uni Eropa Brexit.
Sesudah Partai Konservatif yang di pimpin Boris Johnson memenangkan Penentuan Biasa Pemilu pada minggu lalu, serta kuasai bangku sebagian besar parlemen, Brexit kemungkinan akan berlangsung pada 31 Januari 2020.
Waktu peralihan akan berjalan sampai akhir tahun kedepan. Dengan secara singkat waktu peralihan, tentu saja bahasan kesepakatan dagang harus dipercepat, ini menyebabkan kecemasan tidak ada persetujuan dagang di antara Inggris serta Uni Eropa.
PM Jonhson disebutkan akan lakukan pendekatan yang lebih keras di waktu peralihan itu. Mengakibatkan perform impresif poundsterling pada minggu lalu seolah pupus.
Kemenangan Partai Konservatif yang mempermudah proses Brexit 31 Januari kelak, malah menyebabkan kekhawatiran baru.
Kelihatannya bangku sebagian besar parlemen yang dicapai Johnson sangat mungkin dia untuk lakukan pendekatan yang keras, yang pasar tidak senang.
Mengingat ekonomi Inggris sedang melambat serta perusahaan-perusahaan mulai tinggalkan Inggris sebab Brexit, short-covering poundsterling kelihatan telah selesai kata Masafumi Yamamoto, kepala pakar taktik mata uang di Mizuho Securities.
Penguatan tajam poundsterling di hari Jumat 13/13/2019 memberi respon kemenangan Partai Konservatif sekarang telah terbabat habis.






