Dolar Australia menanggung derita penurunan mencolok pada perdagangan hari Kamis 24/1, sesudah bank-bank paling besar negeri Kanguru setuju meningkatkan suku bunga hipotek.
Mendekati akhir session Eropa, pasangan AUD/USD turun 0.71 % ke posisi 0.7090, sedangkan AUD/NZD turun 0.40 % ke posisi 1.0475. Walau sebenarnya, data ketenagakerjaan Australia yang launching barusan pagi tunjukkan angka lebih baik dibanding harapan.
ABS (Australian Bureau of Statistics) memberikan laporan jika Employment Change memasuki bulan Desember 2018 alami penambahan 21.6k. Angka itu lebih rendah dibanding perolehan 37.0k yang didapat pada bulan November, tapi mengungguli harapan awal yang dibanderol pada 16.5k.
Tingkat Pengangguran Australia pada periode itu pun alami penurunan dari 5.1 % ke 5.0 %, memberikan indikasi pasar tenaga kerja yang solid. Namun, berita itu tidak berhasil mengangkat Dolar Australia, sebab ketetapan beberapa bankir untuk meningkatkan suku bunga hipotek.
NAB (National Australian Bank), salah satunya bank paling besar Australia, meningkatkan suku bunga variabel untuk hipotek sebesar 12 basis point, dengan dalih sebab penambahan cost pembiayaan.
Cara tersebut diambil sesudah tiga bank besar Australia yang lain meningkatkan suku bunga pada bulan September kemarin.
Di kelompok investor, aksi pihak perbankan itu dipandang punya potensi menghajar pasar property yang telah menanggung derita karena penurunan harga terparah dalam dua dasa warsa serta perlambatan pembangunan property baru.
Oleh karena itu, investor mulai mempertimbangkan kekuatan pemangkaan suku bunga referensi oleh bank sentra Australia Reserve Bank of Australia/RBA tahun ini.
Pasar Futures sudah tunjukkan 56 % probabilitas pemangkasan suku bunga di akhir tahun ini, meskipun bank sentra sebelumnya mengungkapkan tidak ingin mengubah suku bunga benar-benar.
RBA sedikit akan lega karena data ketenagakerjaan karena meningkatnya beban pada pihak lainnya, dari mulai perkembangan global/China yang lebih lemah, semakin melambatnya di pasar perumahan, serta berlanjutnya kekangan credit, tutur Su-Lin Ong.
Sambungnya kembali, Kondisi pasar tenaga kerja ialah kunci dalam memastikan bagaimana perekonomian sesuaikan dengan pasar tenaga kerja yang lebih lemah pada 2019, rintangan customer serta kekuatan surprise perkembangan global alami penurunan.






