Surat keterangan sah nilai tukar Rupiah di JISDOR masih dalam pengamatan bergerak naik dari Rp 15,233 ke Rp 15,215 pada sesi perdagangan hari Rabu 10/Oktober, sementara nilai tukar USD/IDR di pasar spot mengalami penurunan sebesar 0.20 % ke Rp 15,195.
Berita baik itu disusul juga oleh bertambahnya Indeks Harga Saham Kombinasi IHSG sebesar 0.41 % ke posisi 5,820.67. Akan tetapi, keadaan positif yang muncul menyusul pengumuman bertambahnya harga BBM ini di kuatirkan akan berbalik ke zona negatif secara cepat.
Penguatan kurs Rupiah menempati posisi yang tertinggi dibadingkan dengan mata uang Asia yang lainnya. Rupee India berada di posisi ke-2 dengan menguat sebesar 0.19 %, Won Korea Selatan bergerak naik 0.12 %, Ringgit Malaysia sebesar 0.11 %, sesaat Dolar Singapura serta Renminbi Tiongkok hampir stagnan.
Dari CNN Indonesia, analis Nurhadi Yasyi mengutarakan jika naiknya Rupiah ialah dari sentimen yang dapat membuat Dolar AS menurun.
Sentimen itu hadir dari gagasan persetujuan proposal keluarnya pemerintahan Inggris dari pihak Uni Eropa bulan November yang akan datang.
Selain itu, ada juga sentimen dari antisipasi pasar mendekati launching data indeks untuk harga produsen PPI Amerika Serikat malam hari ini.
Akan tetapi, dia memandang penguatan rupiah cuma akan berjalan sesaat, sebab ada agenda launching inflasi customer AS pada akhir minggu.
Naiknya data inflasi AS bisa disimpulkan menjadi katalis yang bisa menggerakkan bank sentral AS meneruskan bertambahnya suku bunga mereka dengan setahap.
Meskipun sebenarnya, ini adalah salah satunya aspek yang menggerakkan pelarian dari sejumlah dana asing dari beberapa negara berkembang, termasuk juga Indonesia.
Semakin kurang jelasnya masalah harga BBM jadi aspek lainnya yang bisa memberatkan nilai tukar Rupiah serta IHSG yang akan datang.
Sore hari ini, cuma beberapa saat sesudah Menteri ESDM Ignatius Jonan menginformasikan kenaikan harga BBM type premium dari Rp 6.550/liter jadi Rp 7.000/liter.
Petinggi yang lain mendadak mengatakan tunda kenaikan dengan dalih menanti persiapan Pertamina. Walau sebenarnya, kenaikan harga BBM adalah kebijakan yang diinginkan oleh aktor pasar finansial.
Sebab cost yang di keluarkan untuk mengawasi harga BBM murah dipandang seperti salah satunya biang kerok besarnya defisit laporan transaksi yang bergerak current akun yang menyebabkan kurs Rupiah terdepresiasi.






