Mata uang dolar AS naik pada Rabu (16/02) pagi di Asia, sementara untuk euro masih mempertahankan kenaikan semalam di awal perdagangan pasar Asia Pasifik. Para Investor juga mencerna data laporan bahwa negara Rusia dapat memindahkan seluruh pasukannya dari perbatasan Ukraina, di samping keluarnya pengumuman data ekonomi terbaru dari China.
Indeks untuk Dolar AS yang mengukur greenback terhadap sejumlah mata uang lainnya naik tipis sebesar 0,04% menjadi 96,032 pukul 11.24 WIB. Pasangan mata uang USD/JPY naik tipis sebesar 0,06% di 96,032. Rupiah sendiri mata uang Indonesia terus menguat sebesar 0,10% di 14.285,0 per dolar AS sampai pukul 11.27 WIB.
Kementerian Pertahanan dari Rusia pada hari Selasa menerbitkan sejumlah rekaman yang menunjukkan bahwa pihaknya telah menarik beberapa pasukan dari perbatasan dengan Ukraina setelah menggelar aktivitas latihan perang.
Mata uang Dolar AS Menurun Semalam
Namun, Presiden AS Joe Biden telah mengatakan bahwa AS belum memverifikasi langkah itu, sementara pihak Ukraina melaporkan serangan dari siber pada jaringan daring Kementerian Pertahanan dan dua bank lainnya hanya terjadi beberapa jam setelah pengumuman dari pihak Rusia.
“Dolar menurun saat semalam karena adanya premi risiko geopolitik Ukraina keluar dari pasar, tetapi sejumlah ekspektasi siklus kenaikan dari pihak The Fed yang agresif harusnya menjaga basis untuk indeks dolar di tempatnya,” Jelas seorang Analis Westpac menyatakan dalam catatan.
Pihak Federal Reserve AS diperkirakan akan menaikkan jumlah suku bunga pada pertemuan Maret 2022 nanti, dengan beberapa kenaikan lagi kemungkinan pasti akan mengikuti sepanjang tahun.
Investor sementara untuk sekarang masih menunggu risalah dari pertemuan terakhir pihak the Fed dini hari nanti, yang dapat memengaruhi pergerakan dolar dan juga bunga obligasi AS.
Sebuah perdebatan di kalangan petinggi pihak The Fed mengenai seberapa agresif keputusan bank sentral harus menaikkan jumlah suku bunga juga berlanjut.
Presiden dari pihak Fed St. Louis, yaitu James Bullard, pada hari Senin telah mengulangi seruannya bahwa untuk mempercepat laju kenaikan suku bunga The Fed.
Tetapi beberapa rekannya malah kurang tertarik untuk berkomitmen atas kenaikan sebesar setengah poin persentase atau bahkan khawatir hal itu bisa saja dapat menyebabkan masalah.
Untuk di seberang Atlantik, pihak Bank of England dapat menaikkan jumlah suku bunganya sendiri sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan Maret nanti, menurut sebuah jajak pendapat ekonom Reuters. Hal tersebut pasti juga akan memengaruhi mata uang Dolar AS.






