Bersamaan dengan membaiknya sentimen efek global serta keinginan untuk pemulihan ekonomi bertambah cepat, Dolar New Zealand sudah sampai rekor paling tinggi satu bulan. Namun, momen reli mulai ditanyakan.
Trend positif periode panjang diprediksikan selalu berjalan, tapi beberapa revisi peluang berlangsung berkenaan dengan kebijaksanaan bank sentra.
Belakangan ini, Gubernur RBNZ Adrian Orr menjelaskan jika suku bunga negatif adalah satu peluang yang tidak dapat diacuhkan.
Walau sebenarnya, suku bunga RBNZ barusan dipotong sampai 0.25 % pada bulan Maret. Dia mengatakan jika faksinya bisa lakukan pembiayaan langsung helicopter money -red bila dibutuhkan untuk menyokong situasi moneter.
Pengakuan Orr memantik pertaruhan mengenai perkembangan kebijaksanaan dalam informasi bank sentra yang diselenggarakan minggu kedepan atau beberapa waktu ke depan.
Pemotongan suku bunga serta kebijaksanaan ultra longgar semacam itu akan makin menggerogoti daya tarik Dolar New Zealand.
Outlook ekonomi yang selemah itu akan memerlukan tanggapan moneter serta fiskal masif, kata Dominick Stephens, kepala ekonom Westpac, Kami memprediksi RBNZ akan kurangi OCR sampai -0.5 % pada November 2020.
New Zealand bisa memandang dianya untuk salah satunya negara yang sangat sukses di dunia dalam mengatur sampai hampir mengentaskan COVID-19 di negerinya, minimal untuk saat ini. Namun, ongkos ekonomi dari lockdown ketat-nya tentu tinggi.
Resikonya, tidak cuma berbelanja fiskal semakin tinggi dijanjikan dalam budget Mei, tapi pasar memperhitungkan rekonsilasi kebijaksanaan moneter selanjutnya di pertemuan RBNZ 13 Mei, papar Jane Foley dari Rabobank, Hasilnya, NZD rawan.
Francesco Pesole dari ING Bank memandang tanggapan Orr tidak bisa ditranslate untuk loyalitas untuk memotong suku bunga, tetapi jawboning semata-mata.
Sang Gubernur RBNZ dapat jadi melemparkan wawasan ini dalam usaha untuk menahan animo Dolar New Zealand selanjutnya, sebab kurs yang lemah semakin lebih memberikan dukungan usaha pemulihan ekonomi negerinya.
Jika kurs NZD bertambah terus, karena itu harga komoditas export-nya akan makin tidak bersaing ditengah-tengah keinginan global yang sedang jatuh.






