Perdagangan dolar Amerika Serikat AS lesu pada perdagangan Senin 22/6/2020 karena efek penebaran pandemi penyakit virus corona Covid-19 gelombang ke-2 second wave.
Tidak seperti umumnya, dolar AS yang memiliki posisi safe haven malah kesempatan ini alami pelemahan.
Indeks dolar AS, yang menghitung kemampuan mata uang Paman Sam itu, menurun 0,5% ke 96.96. Indeks dolar dibuat dari enam mata uang partner dagang AS yaitu euro, yen, poundsterling, dolar Kanada, krona Swedia, serta franc Swiss
Terlihat di saat yang sama, dolar AS menurun 0,31% menantang euro, 0,42% di depan poundsterling, serta 0,25% menantang franc Swiss.
Menantang dolar Kanada serta krona Swedia, the greenback menurun 0,31% serta 0,63%, sesaat menantang yen statis.
Gelombang ke-2 Covid-19 sekarang sedang mengawasi. China, negara asal virus corona serta awalnya telah sukses menahan penebarannya sekarang kembali lagi hadapi kenaikan masalah.
Tetapi, episenter penebaran Covid-19 sekarang ada di ibu kota Beijing.Sesudah 50 hari tanpa ada transmisi lokal Covid-19 alias 0 masalah, Beijing memberikan laporan masalah pertama pada Jumat 12/6/2020.
Komisi Kesehatan Nasional China Senin tempo hari memberikan laporan 18 masalah Covid-19 baru, sembilan salah satunya di Beijing, hingga keseluruhan masalah di Beijing sekarang ini 236 orang.
Dari Eropa, Jerman tingkat reproduksi Rt Covid-19 di hari Minggu naik jadi 2,88 dari mulanya 1,79. Berarti satu orang yang terkena Covid-19 bisa menyebarkan ke 2,88 orang, atau dari 100 orang bisa menyebarkan ke 288 orang.
AS memberikan laporan rekor tambahan masalah /hari di sejumlah negara sisi. Pekan lalu, AS memberikan laporan jumlah masalah baru pada Jumat serta Sabtu lebih dari pada 30.000 orang.
Peningkatan itu jadi yang paling besar semenjak 1 Mei, berdasar data Johns Hopkins CSSE. Sekitar 7 negara sisi disampaikan menulis rekor tambahan masalah Covid-19 yaitu Florida, South Carolina, Missouri, Nevada, Montana, Utah, serta Arizona.
Kenaikan masalah Covid-19 berlangsung sesudah lockdown dilonggarkan. Masyarakatnya kembali lagi melakukan aktivitas, tapi banyak yang tidak ikuti prosedur kesehatan, hingga kembali lagi berlangsung kenaikan masalah.
Bila jumlah masalah terus bertambah di semua AS, karena itu kebijaksanaan penjarakan sosial social distancing akan kembali lagi diaplikasikan, serta beresiko memukul lagi perekonomian AS.
Kenaikan masalah itu akan membuat daya tarik dolar AS turun, menurut analis Deutsche Bank Sameer Goel. Goel menjelaskan pasar mata uang sekarang ini hadapi beberapa arus silang ditengah-tengah kecemasan gelombang ke-2 Covid-19 di dunia.
Pertanyaan besar buat investor sekarang ini ialah apa dolar AS akan jadi asset safe haven waktu ada kekuatan gelombang ke-2 itu.
Goel mengatakan, kekuatan kenaikan masalah Covid-19 akan membuat dolar AS menurun menantang mata uang negara maju yang lain, serta peluang menurun menantang yuan China. Keinginan dolar AS pada keadaan genting nampaknya mulai menyusut kata Goel.






