Yen saat ini masih dipertanyakan statusnya, aset aman safe haven dan kerap menjadi buruan pelaku pasar ketika terjadi gejolak geopolitik maupun di pasar finansial. Kombinasi wabah virus corona dan anjloknya bursa saham seharusnya menciptakan yen perkasa.
Tetapi yang terjadi sebaliknya, yen justru terus stress hingga menyentuh posisi terlemah pada 10 bulan terakhir.
Melihat konvoi tersebut, yen berpeluang kehilangan statusnya menjadi aset safe haven, apalagi ekonomi Jepang terancam mengalami resesi dampak endemi virus corona.
Wajar saja, Jepang sebagai negara menggunakan jumlah masalah virus corona terbanyak ke-empat. Hingga waktu ini tercatat sebesar 159 pasien yang positif corona.
Saat wabah virus corona meluas di Jepang, pelaku pasar tidaklagi semangat membeli yen sebagai safe haven. Hanya sedikit alasan buat membeli yen dan menjual dolar Alaihi Salam dan euro.
Cepat atau lambat yen akan kehilangan statusnya menjadi aset safe haven istilah Yuzo Sakai, kepala manajer bisnis forex pada Ueda Totan Forex Ltd sesuai yang dilansir Kyodo News.
Sebelum kasus corona muncul pertengahan Januari kemudian, ekonomi Jepang telah terkontraksi. Kini virus corona memperbesar risiko resesi di Jepang.
Apalagi China yang menjadi dari virus corona diprediksi sedang terjadi pelambatan ekonomi. China juga mitra dagang primer Jepang, sehingga akan berefek ke perekonomian Negeri Jepang.
Data menurut Cabinet Office memperlihatkan produk domestik bruto PBD pada kuartal IV-2019 berada di posisi 1,6% QoQ, menjadi yang terdalam semenjak kuartal II-2014. Kontraksi tersebut menjadi yang terdalam semenjak 6 tahun terakhir.
Ada kekhawatiran yang akbar jika perekonomian Jepang melambat dampak penyebaran wabah virus corona.
Popularitas yen sebagai kentara semakin menurun kata Takhesi Minami, kepala ekonomi di Norinchukin Research Institute, sesuai yang dilansir Kyodo News.
Wabah Virus Corona Serang Sektor Manufaktur AS
Petugas mengawal penumpang asing yang turun berdasarkan kapal pesiar Diamond Princess yang dikarantina pada Yokohama, Jepang, Jumat 21/2/2020. Sebanyak 634 dari tiga.711 orang kapal pesiar Diamond Princess sekarang terserang virus corona COVID-19.
Aktivitas usaha AS di sektor manufaktur dan jasa terhenti di Februari karena perusahaan semakin khawatir mengenai wabah virus corona. Data ekonomi yang jelek menurut Amerika Serikat cenderung mendorong asa untuk penurunan suku bunga oleh Federal Reserve.
Suku bunga lebih rendah mengurangi porto peluang berdasarkan bullion yang tidak menghasilkan. Di loka lain, harga paladium turun 0,tiga % menjadi USD 2.681,58 per ons.
Namun naik kurang lebih 10 % sepanjang pekan ini. Ini mencapai rekor tertinggi USD dua,841.54 dalam Rabu, dipicu sang kekurangan pasokan berkepanjangan.
Tetapi, posisi net-long di paladium sudah turun ke 6.062 kontrak pada sepekan hingga 11 Februari, angka terendah sejak September 2018.
Dalam hal teknis, pasar overbought, memperlihatkan bahwa tren akan segera berakhir, sebagai akibatnya spekulan mengurangi posisi net-long mereka pada tengah kekhawatiran terkait koreksi ke bawah, istilah Peter Fertig,
Seorang Analis pada Quantitative Commodity Research. Semantara itu harga perak naik 0,8 % dalam USD 18,50 dan ditetapkan sebagai pekan terkuat semenjak akhir Agustus. Platinum turun 0,24 % menjadi USD 975,53.






