Gerakan harga minyak masih tetap lesu pada perdagangan walau telah rebound dari penurunan mencolok pasca pertemuan OPEC di Wina. Kontrak berjangka Brent diperdagangkan di kisaran $52. 03, melorot 12 sen dari harga penutupan sebelumnya. Sesaat West Texas Intermediate (WTI) tetaplah terpuruk dibawah $50 per barel.
Putusan OPEC Tidak sesuai harapan Pasar
Minggu lantas, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) serta beberapa negara produsen minyak non-OPEC yang lain sepakat perpanjang saat perjanjian pemangkasan output sampai Maret 2018. Tetapi, mereka tidak menaikkan besaran pemangkasan ; hal mana bertolak belakang dengan ekspektasi beberapa pelaku pasar. Kekecewaan itu berimbas pada anjloknya harga minyak Brent serta WTI sampai hampir lima prosen.
Produksi Minyak AS Semakin Giat
Lepas dari selalu berlanjutnya usaha OPEC dalam menyusutkan limpahan surplus dalam enam bulan paling akhir, harga minyak masih terus beranjak dari ambang $50 per barel.
Pasalnya, produksi minyak shale Amerika Serikat selalu membubung. Menurut Reuters, produksi negeri Paman Sam sudah meroket sekitaran 10% mulai sejak pertengahan tahun 2016 sampai 9. 3 juta bph, selalu mendekati level output produsen minyak paling besar dunia, Rusia serta Arab Saudi.
Laporan pekanan Baker Hughes tentang jumlah sumur pengeboran (oil drilling rigs) di AS juga tunjukkan penambahan sepanjang 19 minggu berturut-turut. Berdasar pada data yang dirilis akhir minggu lalu, rig counts telah meraih 722, paling tinggi mulai sejak April 2015.
Hari ini, pasar berjangka AS tutup dalam rencana Memorial Day. Tetapi, data inventori minyak mentah AS versus American Petroleum Institute (API) dijadwalkan launching pada hari Rabu, disusul dari laporan Energy Information Administration (EIA) hari Kamis. Keduanya selalu diawasi oleh pelaku pasar, sementara menantikan rapat OPEC selanjutnya bulan November.






